Tenda Kucing
Sebagai orang yang tidak berpengalaman memelihara kucing, saya sangat berhati-hati dalam merawat Sifu, kucing yang sempat kami tolong seminggu yang lalu.
Selain membelikan makanan kucing, saya juga membelikannya rumah-rumahan berupa tenda kecil khusus kucing yang bisa dipakainya untuk tidur atau berlindung dari percikan air di teras saat hujan.
Tenda kecil itu murah sekali. Saya membelinya di Shopee seharga dua puluh lima ribuan. Itu sudah plus bantalan kucing yang empuk.
Saat paket tiba, saya baru tahu kalau ternyata kain yang dipakai tenda adalah kain biasa, bukan kain parasut atau terpal yang bisa menghalau meresapnya air ke dalam tenda. Tapi mau bagaimana lagi, namanya saja barang murah. Mungkin juga tenda itu dibuat bukan untuk dipakai di luar ruangan.
Saya sih tidak masalah dan masih cukup senang melihat bentukannya yang lucu. Setidaknya, Sifu akan merasa punya rumah untuk dirinya sendiri. Sayangnya, kain tenda itu bermotif Doraemon. Saya khawatir Sifu nanti harus rebutan dengan anak delapan tahun yang segala semesta di kamarnya bergambar Doraemon.
Sambil tertawa-tawa, saya menenteng tenda yang baru saya unboxing itu ke Suami.
"Mas, Mas, lihat! Tendanya gambar Doraemon! Huahahaaha!"
Suami melihat saya dalam diam, lalu tersenyum ganjil. Dia punya rencana, kejahatan terencana, yang kalau tetangga di kampung tahu, orang se-Indonesia tahu, saya tidak lagi jadi kambing hitam atas segala kelakuan anak Doraemon satu itu.
"Wahh, Ibu, ini tenda untuk Sifu?" Alif terkejut saat sepulang sekolah mendapati tenda super mini yang juga super lucu.
"Iya, bagus, kan?" tanya saya riang. "Ini Ibu bikin dari bantalnya Alif lho!"
Alif berlari ke kamarnya, lalu kembali lagi. "Lhooo, mana bantalnya Alif?"
"Ya ini! Sudah Ibu jadikan rumah tenda untuk Sifu." Saya masih riang.
"Ohh."
"Kenapa?"
"Alif jadi ndak punya bantal...."
"Ndak pa-pa, kapan-kapan bisa beli lagi. Lagian biasanya juga Alif tidur ndak suka pakai bantal. Ndak pa-pa, kan? Kan buat Sifu! Kasihan Sifu ndak punya rumah. Nanti kalau hujan, terus kecipratan air, jadi basah, kedinginan, gimana?"
"Iya, ndak pa-pa," jawabnya sepakat, tapi murung.
"Tapi ini beneran, Ibu bikin sendiri? Kawatnya ini dapat dari mana?" Dia mulai curiga.
"Iyalah, lihat Ndak, gambarnya? Ini kan memang kain bantalnya Alif, kan? Terus kawatnya, ya order di Shopee." Saya ngibul.
Alif diam lagi. Mau sedih enggak enak. Sama kayak saya, mau ngakak enggak enak.
"Ya sudah, coba tunjukkan ke Ayah, biar Ayah tahu Ibu ini pinter sekali bisa bikin tenda dari sarung bantalnya Alif."
Alif pun berlalu menuju ayahnya yang sedang menata buku di ruang tamu sambil menenteng tenda kucing dengan semangat. Semangat mengadu.
Entah apa yang mereka bicarakan. Saya hanya bisa melampiaskan tawa yang sejak tadi ditahan-tahan. Itu pun tanpa suara dan tanpa subtitle.
Tidak lama kemudian, Alif kembali bersama ayahnya. Mereka membuka satu per satu pintu lemari di rumah mulai dari lemari di kamar Alif.
Begitu tiba di kamar saya, saat membuka lemari paling atas, Alif berseru riang. Riang dan emosi sambil memeluk bantal yang sarungnya bergambar Doraemon.
"Ibu ini! Ibu menipu Alif!" Dia marah-marah. Tapi senang. Tapi juga marah.
Saya hanya bisa ngakak sambil melempar kesalahan.
"Bukan Ibu! Ibu cuma disuruh Ayah. Marah sana sama Ayah." Tuding saya ke lelaki yang berjalan santai tanpa dosa ke ruang tamu.
"Kenapa Ibu mau disuruh begitu sama Ayah? Ibu Ndak mikir?"
"Enggakkkk, ngapain mikir? Ibu lho ndak suka mikir. Ibu cuma disuruh Ayah. Ibu kan istrinya Ayah, ya Ibu nurut sama Ayah. Sana, protes ke Ayah! Itu semua, rencananya Ayah, tahu!"
Alif masih tak terima. Dia terus-menerus merengsek, marah-marah kepada saya yang cuma pesuruh.
"Kenapa cuma marah-marah ke Ibu? Ndak berani, ya, ke Ayah?" tanya saya yang mulai tak terima kenapa tumbalnya saya lagi saya lagi.
Sampai lama, Alif masih mengomel, bertanya, komplen, dan emosi ke saya. Dia enggak berani ke ayahnya karena pasti kalah ngomong. Ayahnya yang tak terkalahkan, yang dianggapnya paling sakti di dunia dan lebih pintar dari presiden.
Setelah sadar bahwa saya tidak akan bertanggung jawab, Alif akhirnya meninggalkan saya. Dia berganti baju yang tadinya seragam menjadi baju main, lalu pergi begitu saja, melewati ayahnya di ruang tamu yang damai sentosa.
Agak lama dia pergi. Saya kira tadinya beli jajan di warung sebelah atau menjemput anak tetangga. Ternyata prediksi saya salah.
Alif pulang. Jalan menghentak-hentak sambil bergaya jumawa seperti orang yang beckingannya langsung pusat.
"Ibu," panggilnya penuh gaya, "barusan Alif sudah dari pos satpam di depan sana. Alif sudah bilang sama Pak Satpam kalau ada kasus di rumah ini. Lihat saja, Pak Satpam sudah telfon polisi!"
Saya ngakak makin jadi.
😆
Lamongan, 10 Oktober 2025.
Komentar
Posting Komentar