Timbang
Enggak lagi-lagi deh, nimbangin buku ditemani Alif. Rusuh. Saya sang penguasa sementara timbangan digital, terancam dilengserkan oleh anak tujuh tahun tapi ngebet jualan itu.
Jadi, kala itu, si ayah baru datang dari tempat Rifa'i Rif'an. Dia bawa banyak sekali buku, sekardus besar. Dengan senang hati saya meng-unboxing barang dagangan yang menggiurkan itu.
Selain unboxing, saya juga sekalian menimbang berat masing-masing buku untuk keperluan pengiriman karena memang buku-buku itu kami jual online. Juga perlu hati-hati karena semua masih bersegel.
Masalahnya, sejak buku-buku itu datang, Alif sudah antusias. Waktu saya menjajar buku-buku itu di kamar, dia lebih antusias lagi. Dia seperti menemukan lego alternatif yang bisa dia susun jadi benteng pertahanan. Dan lebih antusias lagi sewaktu saya menimbang. Dia merasa saya lagi main pasar-pasaran.
Jangankan pas nimbang, pas baru mengeluarkan timbangan dari tempat persembunyiannya aja di udah heboh. Dia langsung berdiri seperti ketemu singgasana.
"Eh, eh, mau ngapain?" Saya menghalang-halangi. Kuatir dia naik ke timbangan digital yang maksimumnya tidak sampai sepuluh kilo itu.
"Alif mau coba!" serunya.
"Mboten! Ini buat nimbang buku."
"Ayolah, Ibu, Alif mau naik ke situ!"
Sabarlah, Nak.
Tidak semua yang kita mau harus kita dapatkan.
Ibu juga dulu sama Ayah tidak boleh timbang di situ.
Padahal sudah Ibu tawarkan untuk timbang tangan aja dulu... atau kaki dulu....
😇
Lamongan, 8 Oktober 2024.
Komentar
Posting Komentar