Serba Iya


Senangnya punya suami yang serba iya. Bahkan pada hal-hal yang saya sendiri tak menyangka akan diiyakan.

"Mas, aku mau beli jajan chiki, yang banyak, ya!"

"Iya."

"Mas, aku capek, males dandan, gini ajalah, ya." Ini pas kami mau keluar dan saya mode gembel.

Jawabannya, tentu saja, "Iya."

"Mas, aku pingin beli cilok," ucap saya jam sembilan malam.

"Iya."

"Mas, pokoknya aku mau nyucinya sedikit aja. Capek," keluh saya yang merengek duluan, padahal nyuci juga belum.

"Iya," jawabnya santai, yang malah bikin saya enggak terima.

Masa diiyain. Nyuci kok nanggung. Jadilah akhirnya saya nyuci banyak.

"Mas, aku nyalakan obat nyamuk, ya."

"Iya."

"Tapi tiga!"

"Iya." Dia menjawab dengan enteng. Sama sekali tidak merasa aneh.

Saya langsung ragu dan mikir ulang. Tapi tetep akhirnya menyalakan tiga obat nyamuk bakar.

"Mas, pokoknya nanti sahur aku mau bikin kopi biar ndak ngantuk, bikin energen biar kuat puasanya, bikin minum jeruk biar ndak panas dalam."

"Iya."

Yang paling memorable, sewaktu saya minta beli bando. Semata karena saya merasa kalau hanya mengikat rambut ke belakang seperti biasa, nanti akan terlihat seperti pembantu-pembantu di TV.

"Mas, aku mau beli bando, ya."

"Iya."

"Biar ndak kayak pembantu gitu, lho, Mas."

"Iya. Beli saja."

"Biar nanti aku elegan, Mas. Biar semangat dan merasa profesional juga."

Banyak sekali argumen saya, padahal enggak ada yang melarang.

Pas bandonya dapat, saya langsung mencobanya. Sebuah bando yang membuat saya merasa seperti penghuni Harem menyaingi Putri Hurem.

"Lihat, Mas, bagus, kan? Wuaaahhh, ini bando paling bagus yang pernah tak punya seumur hidup!" Saya girang.

Sehari, dua hari, seminggu, bando masih saya pakai. Selebihnya....

"Mas, kayaknya bandonya tak museum kan aja, ya."

"Iya."

"Memang, bandonya bagus. Aku jadi enggak kayak pembantu yang di tivi-tivi itu. Ndak ada juga pembantu yang pakai bando seperti itu. Bandonya justru terlihat seperti head piece-nya putri-putri begitu. Tapi, Mas, aku baru sadar, pas aku yang pakai, malah jadi seperti pembantu yang pinjam bandonya Putri Hurem!"

Suami hanya melihat saya dengan ketabahan dan ketakjuban yang sulit digambarkan.

😅

Lamongan, 18 April 2025.

Komentar

Postingan Populer