SIFU
Dua malam yang lalu, saat saya mencuci piring sehabis maghrib, tiba-tiba ada suara gedubrak dari belakang, di kebun kesayangan saya. Ternyata ada seekor anak kucing jatuh dari atas gerbang belakang.
Saya yang tidak mau berurusan dengan kucing, terutama kucing kecil yang suka halu naik-naik di ketinggian, hanya bisa memanggil damkar lokal: Suami.
Untungnya, ayah Alif itu sering jadi sorotan untuk disukai beberapa mahluk, diantaranya: kucing, kupu-kupu, dan waria. Yang terakhir paling buas.
Bapak-bapak anak satu itu, berjalan dengan damai menuju belakang rumah. Saya ribut menjelaskan dan menunjuk-nunjuk area di belakang tanaman menjalar. Alif ricuh kepo melihat-lihat dan tak ingin terhalangi tapi juga tidak mau terlibat. Si kucing, yang jatuh dan justru lari sembunyi tadi, cuma meraung-raung tidak jelas. Berisik semua.
Di tengah kekacauan semacam itu, yang mukanya tenang cuma si ayah. Dia santai saja, mencoba berkomunikasi dengan si kucing, memberikan sedikit wejangan agar hewan itu tetap tenang, dan menjelaskan bahwa semuanya tidak apa-apa, baik-baik saja.
Setelah dua tiga menit, akhirnya kucing kecil itu berhasil dievakuasi dan dikeluarkan lewat pintu depan.
Tapi masalah tidak berhenti sampai di situ.
Gara-gara pertolongan ayah Alif itu, si kucing kecil tidak mau pergi ke mana-mana. Dia duduk manis di depan pintu dan mengeong berisik setiap ada yang keluar, terutama kalau yang keluar adalah ayah Alif.
Awalnya, saya kira kucing itu akan pergi sendiri ke tempat asalnya saat lelah menunggu. Tapi sayangnya, sampai malam makin sepi, sampai hujan deras tengah malam, kucing itu masih di situ.
Ayah Alif yang saat hujan deras belum tidur, memantau kondisi hujan di luar, lalu mendapati kucing itu masih meringkuk di depan pintu sambil kebasahan karena cipratan air hujan yang memantul di teras.
Kasihan, diambilkannya kucing itu kardus yang sudah dimasukkan plastik besar untuk tempat si kucing berlindung agar tidak kedinginan. Kardus itu kemudian ditutup atasnya menggunakan karung agar tampisan air hujan tidak masuk. Tidak lupa juga disediakan sedikit makanan agar si kucing kecil tidak kelaparan.
Besoknya, pagi-pagi, kucing itu sudah duduk manis lagi di depan pintu.
"Ini soal kucing, gimana, ya?" tanya Suami.
Saya yang sedang melipat pakaian hanya pasrah menjawab, "Ya terserah Mas. Memang anak kucing kalau sudah ditolong jadi begitu, minta diadopsi.Dia akan terus di situ minta dipelihara. Mas mau?"
Ayah Alif diam. Saya pun tidak menuntut jawaban. Hanya pintu depan tidak sering dibuka lagi karena kuatir kucing kecil itu masuk.
Saat Alif mau berangkat sekolah, kucing itu masih di situ. Merengsek, mengeong, memanggil-manggil. Sampai sini sebenarnya saya sudah sangat kasihan. Yang bisa saya lakukan hanyalah memberinya sedikit makanan ala kadarnya agar tidak kelaparan meski hanya tempe goreng. Lagian dia salah pilih rumah, di sini isinya herbivora semua, tidak ada satu pun karnivora.
Saat ayah Alif pulang dari luar, kucing itu masih di situ, berlari menyambutnya sambil mengeong antusias.
Luar biasa permainan psikologi kucing. Dia nyerangnya langsung ke mental ketua suku.
Laki-laki pendiam itu akhirnya setuju kami memelihara si kucing. Bertambahlah satu pengangguran di rumah ini.
Sebagai permulaan, saya memberinya nama Sifu, seperti nama master kungfu di Kung Fu Panda, karena wajahnya yang terkesan jutek dan tubuhnya yang kecil.
Kerjaan saya nambah lagi. Selain mengurus anak dan suami, mengurus rumah seperti istana sendiri, mengurus tanaman seperti ponakan sendiri, saya masih juga harus mengurus kucing seperti ponakan dari ponakan sendiri.
Sejak itu, pokoknya saya bertekad tidak akan menjadi babu majikan berbulu seperti yang orang-orang lakukan. Saya akan mendidik kucing itu agar tidak masuk rumah sebab saya khawatir najisnya, mendidik agar tidak buang air sembarangan, dan kalau bisa sekalian menjadi penjaga taman depan yang berharga. Tapi semua itu ternyata saya pikirkan sambil scroll makanan kucing, tempat makan kucing, kalung kucing, dan rumah-rumahan kucing di Shopee. Tekad halu mental babu.
Tapi yang lebih saya khawatirkan adalah kalau saya tidak bisa bersabar ketika misalnya si kucing belum cukup pintar untuk tidak buang air sembarangan. Itu yang paling utama. Ayah Alif pun waspada sekali karena tahu saya mudah jijik.
Tapi ternyata saya salah. Kucing itu ternyata pintar dan penurut sekali. Saat diajari untuk tidak masuk rumah meski pintu terbuka sedikit, kucing itu menurut. Dia hanya duduk santai di dekat pintu tanpa sedikitpun berusaha masuk atau menyelinap saat kami keluar masuk rumah. Dia juga tidak ke mana-mana dan tidak mengotori taman maupun teras.
Yang mengkhawatirkan ternyata....
"Aliiiiiffffffff! Ya Allah, Nakkkkkkkkk, mau diapain kucingnya kok dibawa ke keran? Lihat itu! Basah! Kedinginan! Ndak tahu tah kalau pagi ini dingin sekali? Alif aja belum mandi, kok pake acara mandiin kucing!" Saya terpekik-pekik saat hari baru saja mulai terang, di hari pertama memelihara kucing.
😑
Lamongan, 1 Oktober 2025.
Komentar
Posting Komentar