Selera Dandanan


Siang itu, saat sadar sedang senggang bersama Alif, saya segera ingat untuk menanyainya sebelum ditanyai. 

"Alif, Alif senang, ndak, punya ibu seperti Ibu?" tanya saya, gabut. 

"Emmm, ya senanglah!" jawabnya santai sambil mengutak-atik mainan. 

"Kenapa?" Tingkat kesulitan pertanyaan saya naikkan. 

"Apa, ya?" Alif mulai mikir. "Karena Ibu cantik kalau ke sekolah," jawabnya pada akhirnya. 

Dasar lelaki tak peka. 

"Memangnya, kalau di rumah, Ibu ndak cantik? Cantiknya cuma kalau pas keluar? Menurut Alif, gimana, muka Ibu waktu di foto sama aslinya beda ndak? Kalau sama Komunyong (SeoYeJi) cantik siapa?" Saya menyerang Alif dengan pertanyaan bertubi-tubi. 

"Bukan gitu, Ibu. Ya cantik. Ya mirip seperti di foto. Tapi, ya, yang bikin Alif ndak suka itu, ya, kalau Ibu bangun tidur itu lho, wuiihh, mukanya itu banyak sekali minyaknya kayak baru mandi minyak. Terus, rambutnya itu lho, Ibu, berantakan! Uwel-uwelan! Beda sekali apa lagi sama yang sudah dandan."

Serangan balik macam ini bikin saya semringah di awal lalu galau di belakang. Mau ngereog tapi gagal karena kebanjiran fakta. 

Harusnya dia tak sejujur itu. Mana dia kalau lihat adegan Princess Anna bangun tidur, langsung teringat saya. Anna memang princess, kecuali pas bangun tidur. Lebih seperti gembel numpang tidur di istana. 

Alif suka banget lihat saya yang versi rapi, harum, dan bermake-up lengkap. Lengkap maksudnya beserta eyeshadow dan eyeliner. Katanya, biar seperti orang Korea. 

Beda sama ayahnya yang sukanya natural-natural aja. Meski begitu, ayah Alif tetap mensponsori sekardus peralatan pertukangan wajah biar saya bahagia. 

Selain ayah Alif, adik saya yang paling besar juga begitu. Suka yang natural, katanya. Waktu itu ngomongnya pas dia belum nikah. Dia enggak mau dijodohin sama sesecewek cuma gara-gara dandanannya. 

"Ndak mau. Alisnya tebel gitu kayak Mbak Bunga!" ucapnya tanpa sadar risiko hidup. 

Dia pikir saya pakai alis kayak emak-emak yang kenalnya cuma pensil alis hitam medok. Yang belum kenal sama  teknologi sederhana yang disebut sikat alis dan belum tersentuh peradaban make up modern. 

Mungkin dia memang sedang bosan hidup. Untung waktu itu ngomongnya bukan di depan saya. 

Coba kalau iya, niscaya enggak akan sempat kawin dia. 

😑

Lamongan, 6 Januari 2025.

Komentar

Postingan Populer