Makanan Kucing vs Makanan Alif
Awal-awal si kucing, Sifu, hadir di rumah, dia sudah mencicipi berbagai variasi menu rumahan. Mulai dari nasi putih, tempe mendoan, sampai telur ceplok. Yang terakhir itu cukup favorit.
Siang hari setelah malamnya diselamatkan oleh si ayah, Sifu mulai dibelikan makanan yang memang khusus kucing. Pilihan jatuh pada wet food harga lima ribuan. Soalnya yang dry food di sekitar sini harganya lumayan, tiga puluh ribu ke atas. Jadi, sebagai pilihan darurat yang terjangkau, wet food cocok banget sambil nunggu orderan dry food via Shopee tiba di rumah.
Saya sendiri belum pernah tahu seperti apa wujudnya wet food atau makanan basah kemasan untuk kucing. Makanan kucing yang pernah saya lihat, yang dipakai adik saya untuk memberi makan kucing-kucingnya, adalah dry food atau makanan kering yang bentuknya seperti sereal.
Nah, saya baru tahu, ternyata wet food itu wujudnya seperti pasta. Seperti daging ikan yang diblender lalu dikemas. Untuk edisi yang saya pakai kemarin ini, kebetulan varian tuna yang dicampur dengan daging ayam. Baunya luar biasa menyengat di hidung seorang istri vegetarian. Seperti ikan pindang. Dan terksturnya real banget. Nampak jelas sisa suwiran daging ayam dan ikannya.
Wah, kalau itu saya kasihkan semua, paling mentok ya cuma untuk dua kali makan. Sifu sih doyan. Dompet saya yang gak doyan.
Berhubung dry food yang saya pesan datangnya masih di hari berikutnya, maka wet food itu saya mix dengan telur ceplok dan sedikit nasi. Alhamdulillah Sifu doyan banget.
Hanya saja, ternyata ada yang tergiur juga tapi bukan kucing. Melainkan bocil halu kelas dua esde yang kalau makan ikan lagaknya persis pejabat lagi pencitraan. Secuil doang, demi formalitas. Sisanya, masuk di penadah utama, saya.
"Ibuuuuuuuuuuuuuuu! Bau makanan kucingnya enak sekali! Alif boleh icip, ndak?" serunya di teras rumah, di siang yang lengang dan semilir.
Ini anak nanggung banget kalau minta. Harusnya pakai TOA sekalian.
Kan saya jadi bingung.
Enggak dikasih, kok kesannya pelit banget. Apa kata tetangga nanti?
Dikasih, kok kesannya nggeragas (rakus) banget. Apa kata tetangga nanti?
Saya jadi bingung sebenarnya apa sih maunya tetangga itu?
Berkali-kali Alif bertanya sambil terpekik-pekik di halaman. Kucingnya sih cuek enggak mau berbagi. Saya doang yang malu.
Makin Alif bertanya, makin saya nge-lag karena enggak expect anak akan minta makanan kucing.
Maka jawaban yang keluar hanyalah pertanyaan balik yang semakin membuat ijazah saya layak dipertanyakan.
"Emang boleh?" Selugu itu.
Tapi bukannya mikir, Alif malah bertanya lagi, "Memangnya ndak boleh? Kenapa? Mengandung zat apa? Apa berbahaya? Kalau berbahaya, kok, kucingnya ndak pa-pa? Apa bedanya dengan makanan manusia?"
Mendadak saya punya pikiran putus asa, yakni buka google.
Tapi belum apa-apa saya sudah merasa berdosa: Seorang ibu mencari info di google tentang apakah anaknya boleh makan makanan kucing.
Nanya google, salah.
Enggak nanya, tapi kok saya pengen membungkam mulut anak satu itu.
Siang itu, saya hanya diam membisu, sebagai satu-satunya solusi supaya tetangga berpikir bahwa tidak ada saya di luar sana. Skenarionya: Alif ngomong sendirian. Kucing makan sendirian. Alif mengemis makanan kepada kucing. Kucing pelit tidak peduli kepada anak kecil yang kelaparan dan meminta-minta di hadapannya.
Besoknya, dry food orderan datang.
Saya lagi-lagi memberi makan dry food ke kucing di teras rumah bersama Alif.
Alif masih bertanya-tanya seperti sebelumnya. Tapi tidak lama, sebab dia sibuk memperhatikan bentuk cetakan dry food yang meriah: hati, bintang, dan ikan.
Dry food memang aromanya tidak sekuat wet food, sehingga baunya tidak membuat Alif tergiur. Tapi ternyata, bentuknya itulah yang membuat Alif tergiur.
Alif minta lagi.
Saya bingung lagi.
Tetangga bingung lagi.
Tidak cukup sampai di situ. Karena pertanyaannya tidak kunjung dijawab, Alif menyembunyikan beberapa butir makanan kucing di genggamannya. Entah ada yang dia makan atau tidak. Tapi saya melihatnya mencelupkan kepingan makanan kucing itu ke wadah air minum kucing. Mungkin kalau tidak ada saya, dry food itu sudah jadi Oreo: diputar, dijilat, dicelupin.
Satu hal yang pasti, saya berdoa agar Tuhan memberi keselamatan dan hidayah kepada anak saya agar kembali pada makanan manusia.
Lalu inilah yang terjadi siang tadi....
Alif tidak lagi ikut memberi makan kucing.
Alif tidak lagi tergiur dengan makanan kucing.
Alif hanya ... makan wafer Nabati rasa pink lava yang dicelupin ke minuman es jeruk peras.
Wahai Tuhan, maksud hamba gak gini....
ðŸ˜
Lamongan, 5 Oktober 2025.
Komentar
Posting Komentar