Bahagia Ujian



Hari ini, hari terakhir Ujian Tengah Semester, atau yang di era pendidikan sekarang disebutnya Sumatif Tengah Semester.

Setiap kali Alif ulangan atau ujian, saya selalu sedih. Sedih karena di usia bermain ini anak harus merasakan yang namanya ujian atau ulangan. Dia jadi harus belajar. Dan saya tidak suka itu. Saya lebih suka dia bermain, mencoba hal-hal baru yang bikin saya emosi, berinteraksi dengan teman, belajar membangun pertemanan, belajar berbagi, mengenal alam di sekitar, dan bereksperimen dengan benda-benda sederhana di sekitar.

Sehari-hari, Alif jarang belajar. Dia sering, sih, minta belajar bareng, tapi saya selalu menolak karena tahu fisiknya sudah kelelahan. 

"Ibu, ayo belajar," ajak Alif sehabis Sholat Isya, setelah sebelumnya berangkat sholat dengan setengah ngantuk, setengah halu.

"Kalau memang pingin belajar, siangnya harus tidur," tolak saya sambil mengingatkan SOP belajar bersama Ibu 

Kami semua kalau malam selalu tinggal lelahnya. Alif lelah karena sepanjang sore bermain sampai berpeluh-peluh, saya lelah karena sepanjang hari mengurus rumah, tanaman, kucing, dan kericuhan di dalam kepala sendiri. 

Saya jarang tidur siang, kecuali tidak sengaja. Rebahan dikit langsung lenyap. Saya butuh tidur, tapi lebih butuh lagi duit, eh, kesadaran, sebab ada jemuran dan anak yang harus dijaga kalau-kalau tiba-tiba hujan.

Alif juga jarang tidur siang, kecuali dipaksa dengan cara tawuran dulu. Rebahan berjam-jam belum tentu membuatnya terpeleset ke alam mimpi. Alif butuh tidur, tapi dia tidak merasa dan mengakui itu. Dia lebih butuh main dan panggilan anak tetangga kalau tiba-tiba menjemput.

Siang ini, Alif pulang lebih awal. Selain karena Hari Jumat ada agenda jumatan, sekolah Alif memang selesai lebih cepat sebab hanya ujian satu mata pelajaran saja.

Berakhirlah masa-masa ujian yang bagi Alif sangat menyenangkan. Malamnya belajar bersama Ibu, besoknya sekolah tanpa harus mendengar materi-materi pelajaran, cukup mengerjakan soal secepat mungkin biar bisa segera keluar duluan dan main di luar. Belum lagi jam pulang yang selalu lebih awal dan jatah uang saku yang utuh atau hanya berkurang sedikit.

Alif bahagia, saya hampir gila.

Belajar bersama Alif setiap hari bukanlah rutinitas yang mewaraskan. Itu melelahkan luar biasa. Belum lagi kalau malamnya sudah belajar banyak, penuh perjuangan, kericuhan, eh paginya anak kayak ke-restart. Oleh sebab itu, pantang bagi saya, di pagi hari, mengungkit-ungkit pelajaran semalam seperti mengungkit sengketa dendam lama.

Itu pun belum tentu pagi bisa berlangsung dalam damai.

Maka di hari terakhir ini, saat Alif pulang dari sekolah, berakhir pulalah penderitaan temporer saya.

Setidaknya begitulah yang saya pikirkan.

Lega itu ternyata tidak lama. 

Saat Alif pamit keluar rumah untuk beli jajan, saya menyadari dia tampak terlalu bahagia memandang-mandang uang lima ribuannya.

"Alif kenapa uang sakunya masih utuh lima ribu? Tadi ndak beli apa-apa di sekolah?" tanya saya penuh curiga.

Kebahagiaan anak ternyata adalah sumber kecurigaan seorang Ibu. Anak diam, curiga. Anak sepi, curiga. Anak bersikap baik, curiga. Anak terlalu bahagia apa lagi. 

"Hehe, Alif tadi ndak beli. Eh, maksudnya, beli, tapi tadi waktu Alif mengerjakan ulangan, Alif selesai lebih cepat. Rasyid belum selesai. Mungkin karena Alif sudah selesai duluan, jadi Alif dikasih uang." 

"Sama siapa?"

"Sama Rasyid!"

"Kenapa?"

"Ndak tahu, Rasyid ngasih kok."

Penjelasan random begini sudah menguatkan bahwa di balik ketidaknyambungan cerita, ada puzzle kejahatan terencana yang tersimpan.

"Alif jual jawaban ulangan, ya?" tuduh saya mulai emosi.

"Enggak kok, Ibu! Alif ndak jual jawaban!" Dia mulai ketakutan.

Setiap hari, sebelum berangkat sekolah semasa ujian, saya selalu memberi wejangan yang baik-baik kepada anak.

1. Kerjakan soal-soal sebisanya.
2. Kalau tidak bisa, ngarang saja.
3. Tidak usah nyontek.
4. Dapat nilai berapa pun, Ibu tidak akan marah.
5. Jangan jual jawaban. Apa lagi kalau jawabannya ngarang.

"Beneran, kok, Ibu! Alif ndak jual jawaban. Alif lupa kenapa Rasyid ngasih uang." Dia mulai bingung dan terlihat tertekan.

Baiklah, sepertinya cerita plot hole karangannya perlu diberi lanjaran yang masuk akal.

"Alif ngajarin Rasyid?" tanya saya sambil menurunkan nada dan volume.

"Iya, Alif cuma ngajarin Rasyid, Ibu. Kan tadi ada soal, apa gunanya kaki? Nah, Rasyid itu jawab merangkak. Terus tak ingatkan, tak suruh mikir lagi gunanya kaki, tapi tetep aja katanya Rasyid untuk merangkak. Tak bilang aja, kan bisa buat main bola, Syid. Gitu. Terus akhirnya Rasyid sadar kalau yang benar itu untuk bermain bola, bukan merangkak. Terus Alif dikasih deh uang dua ribu."

Saya yakin cerita itu tidaklah utuh.

Tapi ada benarnya juga, Alif ternyata tidak menjual jawaban. Dia hanya menjual kesadaran. 

Di negeri ini, kesadaran jarang ada yang punya. 

Besok-besok mungkin anak ini bisa saya lepas di gedung DPR. 

😏

Lamongan, 10 Oktober 2025.

Komentar

Postingan Populer