Alif Belajar: Matematika Perbandingan
Sejak dulu, saya paling anti sekali kalau harus mengajari bocil. Minimal kalau mau tetap waras, saya maunya mengajari anak usia SMP dan tidak punya darah persaudaraan atau kekeluargaan dengan saya. Karena kalau enggak begitu, endingnya selalu menguras kewarasan.
Tapi sayangnya, kriteria yang cuma dua itu, langka sekali terjadi. Terakhir kali kriteria itu terpenuhi adalah sewaktu saya mondok di Surabaya. Setelah itu, wassalam, karma semua.
Lalu tinggallah saya kini, hidup dengan tanggung jawab monoton mengajari dan mendidik anak bukan usia SMP dan langsung titisan saya sendiri. Darah, wajah, dan setelan pabriknya, seluruhnya ngambil dari saya. Inilah yang susah payah saya telan setiap hari, terutama momen menemani belajar.
Beberapa waktu lalu, demi mengerjakan tugas sekolah, saya mengawal Alif mengerjakan soal-soal Matematika bab Perbandingan. Meski sudah ribuan kali berakhir ricuh, saya tetap menghadapi nasib itu lagi dan lagi.
Saat belajar benar-benar adalah saat saya merasa paling tidak kompeten di bidang yang saya merasa hanya di bidang itulah saya paling kompeten dalam hidup. Singkatnya, enggak guna.
Sebenarnya soal-soalnya simpel saja, tentang apakah nilai angka itu kurang dari (<), lebih dari (>), atau sama dengan (=).
Saat mengerjakan soal yang cara menjawabnya cukup dengan memberikan tanda saja, Alif dengan mudah menjawab dengan benar dan cepat. Masalah muncul saat jawaban harus menggunakan kata-kata: kurang dari, lebih dari, atau sama dengan.
Meski sudah saya ubah soalnya menjadi soal simbolis, meski sudah saya beri contoh, meski sudah saya ruqyah, endingnya tetap saja ambyar.
Di soal tertera:
Pernyataan yang tepat untuk bilangan berikut adalah....
28 ... 38
a. 28 kurang dari 38
b. 28 lebih dari 38
c. 28 sama dengan 38
Sedangkan jawaban Alif adalah .... dia bikin sendiri:
d. a, b, dan c salah semua.
Jawaban yang benar menurut Alif adalah 38 lebih dari 28.
Saya emosi, dong.
"Kok seenaknya gitu, sih, Nak? Lihat soalnya, dua puluh delapan ... titik-titik ... tiga puluh delapan. Nah, dua puluh delapan itu kurang dari tiga puluh delapan, atau lebih dari tiga puluh delapan? Atau sama? Kan enggak mungkin!" jelas saya dengan mengerahkan jatah kesabaran dua hari.
Kesabaran besok diutangi dulu.
Alif, dengan percaya diri, seolah dia yang gemas dengan omelan ibunya, tak sabaran menjawab, "Ya ndak mungkin sama, Ibu! Masa gitu aja ndak tahu?"
"Lha iya, makanya, besar mana dua puluh delapan sama tiga puluh delapan?" Saya mulai ngegas-ngegas.
"Ya besar tiga puluh delapan!" serunya, bete.
"Terus, mana jawaban yang benar? A, b, atau c?"
"Jawabnya salah semua, Ibu!"
Astaghfirullah!
"Katanya sudah tahu kalau tiga puluh delapan itu lebih banyak?" Saya masih berusaha memahami konsep pikirannya.
"Iya tahu!"
"Coba pake tanda apa?"
"Kalau tanda, Alif sudah tahu! Tadi aja dapat seratus!"
"Lha ya udah, tandanya apa ini?"
Dia pun memberi tanda dengan benar: 28 < 38.
"Nah, tahu artinya tanda itu apa?"
"Tahu!"
"Apa?"
"Itu tandanya, maksudnya, tiga puluh delapan itu lebih dari dua puluh delapan!"
"Iya, benar, tapi di pilihan jawaban ini, yang benar itu 28 kurang dari 38. Gitu!"
"Tapi kata Bu Guru ndak gitu, Ibuuuu!"
"Ya gitu! Alif aja yang kurang paham! Ibu ini juga tahu, kok. Ibu juga pernah sekolah, lulus esde, esempe, esema. Ibu juga pinter!" Omel saya sampai hidung gemetar. Dikit lagi sudah mau berdiri buat nyari ijazah yang diragukan itu.
"Coba dilihat dulu itu soalnya kan yang tertulis dua puluh delapan dulu, bukan tiga puluh delapan dulu. Ikutin aja itu! Soalnya jangan diatur-atur sendiri!" tambah saya yang mulai tersengal.
"Ibu jangan marah...." Alif mulai memelas.
"Ibu ndak marah, kok!" elas saya.
"Misalnya, nih, ya, Ibu punya dua puluh delapan roti, Alif punya tiga puluh delapan roti. Berarti kan punya Ibu lebih sedikit dari pada punya Alif." Saya mencoba menjelaskan lagi pelan-pelan.
"Iya, Ibu, kalau itu Alif tahu sekali."
"Nah, berarti, roti Ibu yang dua puluh delapan itu lebih dari apa kurang dari punya Alif?"
"Emm ... kurang dari!"
"Pinteeeeeeerrrr!" Saya mulai melunak.
"Nah, kalau ditulis, kan 28 titik-titik 38, sama aja, kan soalnya?"
"Iya," jawabnya cemerlang.
"Berarti?"
"Tiga puluh delapan lebih dari dua puluh delapan!"
Allahu Akbar!
ðŸ˜
Lamongan, 2 Oktober 2025.
Komentar
Posting Komentar