Tersangka


Makin ke sini, saya makin merasa punya semesta sendiri. Sebagaimana semua orang adalah tokoh utama di kehidupannya masing-masing, saya pun merasa begitu.

Jika dalam semesta ada satu matahari sebagai pusat gravitasi, maka saya juga demikian: membara sendiri.

Gimana enggak, sejak dulu, memang saya paling enggak mudah menerima kelakuan orang-orang di sekitar. Belum lagi kalau sayalah yang dituduh jadi penyebab semua itu.

Punya teman, dia yang kurang normal karena ABK, saya temenin baik-baik, endingnya saya yang dianggap, oleh anak itu, sebagai ABK. 

Ibaratnya, dikatain gila oleh orang gila cuma gara-gara saya bertanya dia pakai KB apa sambil pamer jenis KB yang saya pakai, sementara dia enggak pakai sebab suaminya sudah meninggal. Ya saya kan lupa wong dia haha hehe mulu.

Punya orang tua, tingkat mata duitannya another level. Dikit-dikit ngirim link, dikit-dikit kirim share-share-an. Giliran ditawarin kuburan gratis, emosi. 

Punya saudara, saya yang paling ketat jaga ujian, dia yang paling butuh bantuan contekan. Giliran diajarin belajar, enggak percaya sama kemampuan saya.

Punya suami, konon dulunya anak paling pendiam sekampung, enggak pernah kedengaran suaranya, sekarang saat sudah seperti itu lagi, dianggapnya itu gara-gara saya.

Punya anak, kelakuannya banyak yang enggak nalar, kebanyakan halu, saya lagi yang dituduh menyalurkan gen anomali. Padahal kan masih ada ayahnya.

Sampai yang paling di luar prediksi BMKG, kepala sekolah Alif, yang suka bikin pamflet oleng, sebelas dua belas sama Alif, itu pun masih juga saya yang dituduh orang-orang sebagai penyebab terkikisnya akhlak Beliau. Padahal kan udah dari sononya. Emang takdirnya orang-orang absurd aja untuk ngumpul saling bikin emosi satu sama lain.

Yang tidak terlupakan, saat saya dulu mondok dan dipaksa menjadi ibu kamar dari dua kamar berisi total lima puluh anak. Ada satu teman juga yang ditugaskan membersamai saya mengayomi anak-anak itu.

Waktu itu, di pondok sedang ada lomba sholawatan antar kelas. Nah, dua kamar ini mereka kelasnya setara, setingkat, sama-sama kelas tiga. Sebagian di SMP, sebagian lagi di MTs.

Dari sekian banyak anak, tanpa disangka, tidak ada satu pun yang bisa jadi vokal sholawatan. Suaranya memprihatinkan semua dan sama sekali tidak ada satu pun yang berpengalaman atau berpotensi di bidang tarik suara. Tarik emosi lebih cocok.

Saya yang kebetulan saat itu jadi juri, tidak dapat berbuat banyak. Biarlah kalau memang tidak ikut dan harus bayar denda, tidak apa-apa. Mau bagaimana lagi.

Tapi rupanya, di ujung acara, mereka berani tampil. Tanpa latihan. Tanpa spoiler.

Semua berbusana panjang putih-putih. Yang badannya besar-besar berjajar malu-malu di depan. 

Sampai sini, saya masih tak mengerti mereka mau ngapain.

Terlihat sebagian memakai kopiah, entah dapat dari mana, sebagian lagi memakai sorban. Sebagian lagi merepet di belakang sambil membawa galon, biasanya untuk musik ala kadarnya.

Orang-orang sepondok mulai grasak-grusuk merubung tim sholawat yang anggotanya seluruh warga kamar, bukan lagi perwakilan.

Begitu sebuah suara fals melengkingkan sholawat dan disambut sholawat juga oleh seluruh hadirin, tahulah saya apa yang mereka lakukan.

Cosplay jadi Habib Syech.

Semua orang ngakak.

Lirik yang hanya 'Ya Hanana ... Ya Hanana' dari awal sampai akhir waktu itu habis-habisan membuat orang terpingkal-pingkal. 

Saat selesai, sebagian orang menoleh ke saya, sambil menuduh, "Itu sampeyan, kan, Mbak, yang ngajarin!"

😑

Lamongan, 25 September 2025.

Komentar

Postingan Populer