Teliti Memasak
Sebenarnya, saya lelah sekali dengan gaya memotong sayur ala saya sendiri yang benar-benar merepotkan, lama, dan menghabiskan tenaga, terutama tenaga yang menonton. Karena itulah, ketika saya sedang memasak, siapa pun dilarang mendekat. Menghadapi diri sendiri saja sudah susah, kenapa juga harus ditambahi orang lain lagi.
Bukan saya tidak mau masakan yang tidak dimasak secara teliti dan sempurna. Asal tidak berbahaya saja sebenarnya sudah cukup. Saat di Jogja dulu, saya biasa membeli sayur kangkung segar versi yang sudah dipotong-potong, tinggal masak saja. Tidak peduli apakah tadi daunnya sudah dilihat satu per satu oleh yang memotong atau tidak.
Kalau beli sayur matang juga saya tidak wawancara penjualnya dulu, kecuali soal sayur itu ada campuran hewannya atau tidak. Itu pun karena ayah Alif tidak suka ada protein tambahan di makanannya.
Tapi kalau masak sendiri, saya tidak mau bertanggungjawab kalau sampai ada yang bermasalah dengan masakan saya. Jadi, saya membuatnya sebaik mungkin, sebersih mungkin, selezat mungkin, dan yang utama, aman.
Anehnya, ada beberapa orang yang seperti ditakdirkan untuk menemukan anomali di masakan saya. Biasanya laki-laki. Contohnya Suami dan anak. Entah kenapa, adaaaa saja hal di luar harapan yang mereka temukan di makanan yang saya masak.
Masakan sayur-sayuran, sayur bayam misalnya. Entah bagaimana, meski dedaunan itu sudah saya siangin per helainya, ada saja momen, meski tidak selalu, di mana ayah Alif menemukan ulat yang penampakannya mirip bunga bayam. Sejak itu, tingkat ketelitian memasak dedaunan saya tingkatkan lagi lebih ketat. Sebab kalau keseringan kena tilang, bisa-bisa Suami vegetarian itu enggak mau makan bayam seterusnya. Nambah lagi satu menu yang diblacklist.
Kejanggalan berikutnya adalah saat saya masak nasi. Entah bagaimana, meski butiran beras itu sudah saya cuci berkali-kali, saya cari butiran-butiran kerikil kecil atau pasir yang kadang ikut nimbrung di sana, ada saja momen di mana Alif menemukan sebutir pasir di piringnya. Sementara di piring saya tidak pernah ada. Di piring ayah ayah Alif kadang-kadang ada, tapi sepertinya dia tidak masalah dengan mineral tambahan.
Awalnya, anak delapan tahun itu berisik sekali tiap ada sebutir pasir nyangkut di nasinya.
"Batu lagi, batu lagi. Kenapa sih selaaaalu ada batu di nasinya Alif? Sebenarnya Ibu ini masak beras apa masak batu?"
Saya gemas. Mau balas ngomel tapi tahu diri sebab itu salah saya sendiri.
Berkali-kali begitu. Tidak peduli selama apa saya mencuci beras demi mendulang batu, benda tak diharapkan itu sering sekali muncul, dan hanya satu, di piringnya Alif.
Mungkin karena bosan dengan keluhan anaknya, bapak-bapak pendiam itu akhirnya bersuara juga.
"Alif, tidak usah marah-marah. Tinggal disisihkan saja, selesai. Kan Alif tidak disuruh masak, tinggal makan saja," jelasnya bijak bak suami-suami pembela istri.
Tapi jangan senang dulu. Itu masih ada lanjutannya....
"Kalau nemu pasir, pinggirkan saja di pinggiran piring, kumpulkan. Lumayan nanti kalau sudah banyak bisa buat bangun rumah."
Saya batal senyum. Dia jelas-jelas bukan suami pembela istri.
Tapi nasihat sesat itu ternyata ada gunanya.
Alif tidak lagi marah-marah saat menemukan pasir di nasinya.
Melainkan....
"Wah, ada pasir! Lumayan! Alif kumpulkan ah biar nanti kalau bikin rumah tidak perlu beli pasir lagi!"
Ternyata saya lebih tidak suka komentarnya yang sekarang.
😑
Lamongan, 22 September 2025.
Komentar
Posting Komentar