Suit


Malam-malam begini, saat saya sudah cukup lelah untuk berkegiatan, Alif dan ayahnya membuat acara sendiri: menggambar tiga dimensi.

Entah gimana nanti jadinya. Saya enggak sekali pun pernah melihat gambar tiga dimensi buatan bapak-bapak yang selalu dianggap lebih pintar dari presiden oleh anaknya itu.

Tapi karena saya baik hati dan sudah overload karena kebanyakan menemani Alif belajar, maka saya beri dia kesempatan untuk merasakan sensasi belajar bersama Alif. Indahnya berbagi kebahagiaan.

Sampai tiga puluh menit berlalu, belum terdengar sedikit pun kericuhan. Aman. Damai. Tentram. Tidak ada pekikan, tawa ngakak, istighfar, apa lagi kerusuhan. Benar-benar terkendali dengan baik.

Entah kenapa, saya jadi kesal.

Kok kalau sama saya endingnya ribut melulu?

Kalau diingat-ingat, memang Alif agak berbeda kalau dengan ayahnya. Kalah rela, enggak kalah enggak tahu.

Waktu main suit, misalnya.

Akhir-akhir ini Alif sedang beralih konsep suit. Dari yang tadinya konsep gunting-batu-kertas, berubah menjadi telunjuk-jempol-kelingking.

Kalau yang gunting-batu-kertas, Alif sudah paham banget. Sat-set. Agak berstrategi malah.

Nah, giliran yang telunjuk-jempol-kelingking ini, karena baru belajar, saya meragukan kemampuannya.

Gimana enggak ragu. Main suit sama ayahnya, hasilnya zonk terus.

Pertandingan suit pertama, padahal Alif yang nantangin, hasilnya kalah telak. 3-0. Ayah Alif sudah tahu urutan jari apa yang akan Alif tunjukkan. Entah si ayah ini memang kelewat sakti atau gimana saya enggak tahu.

Pertandingan kedua, masih Alif yang nantangin, hasilnya beberapa kali seri. Entah Alif tambah pinter atau kebetulan saja, saya enggak tahu. Yang jelas, wajah Alif lempeng saja. Tidak susah, tidak senang juga.

Pertandingan ketiga, masih juga Alif yang ngeyel nantangin, hasilnya absurd.

Diulang beberapa kali, tetap absurd.

Alif kalah, saya ber-euforia (saya dukung semua pihak), ayah Alif ber-euforia, Alif biasa saja. Nantangin lagi.

Alif menang, saya ber-euforia, ayah Alif ber-euforia (saya pening memikirkan dia bela diri sendiri apa lawannya), Alif masih tetap biasa saja. Nantangin lagi.

Begitu terus beberapa kali.

Sampai akhirnya saya sadar bahwa ternyata Alif tidak tahu kapan dia menang, kapan dia kalah.

Gitu kok nantangin.

🤦

Lamongan, 3 September 2025.

Komentar

Postingan Populer