Snack


Di antara semua orang di dunia, yang paling saya percaya adalah suami saya. Kalau Alif meyakini ayahnya adalah orang paling pintar di dunia, maka saya meyakini bahwa Suami adalah orang paling waras di rumah. 

Dalam banyak hal, pertimbangan-pertimbangannya, meski bagi saya aneh dan kurang umum, pada akhirnya saya sadari bahwa itulah yang paling mendekati benar yang masih bisa diusahakan dan masuk akal.

Tapi semua itu ambyar saat acara syukuran tujuh belasan tahun lalu. 

Saat itu, kami sedang tinggal di perumahan sebelumya, Green Flower. Tepat pada malam tujuh belas Agustus, semua warga dihimbau untuk berkumpul di lapangan perumahan dan dipersilakan membawa snack bagi yang berkenan. Snack itulah sumber perdebatan kami.

"Snack itu kira-kira maksudnya apa, ya? Mas, kan, orang Lamongan, biasanya di Lamongan orang-orang bawanya snack apa?" tanya saya yang bukan asli Lamongan.

Di tempat saya dulu, ya bawanya langsung nasi box, atau tumpeng, atau jajan basah. Tidak pakai bahasa snack yang di telinga saya terdengar seperti chiki-chiki-an. Enggak Indonesia banget. Entah kalau mungkin saya terlalu lama tinggal di dalam goa sehingga ketinggalan update perkembangan zaman.

Nah, laki-laki yang besar di Lamongan, kedua orang tua bahkan leluhurnya pun Lamongan, tampak bingung juga. Sepertinya efek introvert. 

"Aku tidak tahu." Gitu aja jawabannya.

"Lah, Mas, kan, orang Lamongan! Dari dulu-dulu biasanya gimana?" protes saya.

"Ya aku tidak memperhatikan."

Saya diam. Benar juga. Tidak seperti perempuan yang memantau satu per satu makanan dan jajanan, menarget mana yang mau dibawa pulang, menilai mana yang paling cantik, paling enak, paling mahal, dan paling langka, bagi lelaki mungkin semua itu terlihat seperti bebatuan yang bertebaran. Asal bisa dimakan, tidak beracun, oke aja.

Berkat sama-sama tidak tahu, kami pun mengarang sesuai karakter dan latar belakang. 

Saya yang latar belakangnya seindah pelangi, kaya akan pengetahuan seputar jajanan enak, wawasan seputar persuguhan di beberapa kota, dan referensi berbagai varian jajan dengan harga murah tapi enak dan dapat banyak, juga masih dipengaruhi secara kuat oleh selera pribadi, secara rinci menyarankan molen, martabak manis, atau bakpau.

Sedangkan Suami yang latar belakangnya monokrom, hitam putih, kadang ada abu-abunya, menyarankan satu saja jajanan: Biskuit Roma. Dalihnya adalah bahwa itu nanti akan dijadikan cemilan pendamping setelah makan bersama sambil ngobrol sharing bersama warga lainnya.

Di otak saya: Event agustusan mana yang menyajikan biskuit? Bukankah pilihan saya jauh lebih masuk akal?

Tapi bapak-bapak anak satu itu berkata bahwa semua itu tidak terlihat seperti snack. Bahwa snack setidaknya ada bungkusnya yang semacam jajan di toko-toko itu.

"Lha gimana? Masa mau beli Taro, Jet-Z, atau Chiki, gitu? Kan mahal dan dapat sedikit nanti. Lagian, bayangin, di sini kan banyak mbah-mbahnya, terus mereka akan ambil Chiki, gitu?" tanya saya pada diri sendiri dan Suami.

Kami pun bingung bersama. Tapi tidak lama, hanya sampai Suami mengemukakan usulan geniusnya.

"Gimana kalau Momogi?"

Tanpa pikir lama, saya langsung menyahut, "Ya udah, Biskuit Roma aja."

Lalu tibalah saat Hari H. Semua orang hadir dan berkumpul di lapangan yang sudah digelari terpal. Hampir semua membawa snack. Makanan sudah disediakan panitia. Tinggal saya, datang mengendap-endap sendirian karena Alif dan ayahnya sudah melipir ke deretan bapak-bapak. Dengan malu-malu saya menyembunyikan tiga pack Biskuit Roma sebab semua orang membawa jajanan basah dan buah-buahan. Tidak ada yang sekhilaf keluarga saya.

Mau pulang, terlalu mencolok. 

Mau terus maju, takut ketahuan.

Mau setor biskuit, meski tiga pack, tetep aja anomali.

Maka dari itu, saya bersyukur sekali saat agustusan kemarin, di perumahan tempat kami tinggal sekarang, perdebatan kami hanyalah di seputar bakpau, molen, roti goreng, atau martabak manis.

"Molen itu kecil-kecil, nanti terlihat sedikit. Gimana kalau roti goreng?" Ayah Alif memberi pertimbangan.

"Martabak manis aja, enak banget itu. Aku suka," sahut saya yang langsung disambut tatapan ganjil Suami sebab hanya mempertimbangkan kesukaan diri sendiri.

"Yawes.... Yawesss... Bakpau aja wes, kalau masih buka jualannya," saya mengalah.

Sebelum berangkat beli, Suami sempat mengklarifikasi kembali.

"Nanti kalau tutup, terserah apa yang ada saja, ya?" 

Saya ngakak. Bukan karena pertanyaannya, tapi lebih ke apa yang seketika melintas di pikiran.

"Terserah, Mas. Mau martabak, roti goreng, gorengan, molen, bakpau, semua itu sudah jaaaaaaaaaaauuuuuuuuuuhhhhhhhhhh lebih baik dari pada Biskuit Roma meski belinya lima pack sekalipun."

😆

Lamongan, 2 September 2025.

Komentar

Postingan Populer