Sampah Kesayangan


Setelah sekian lama melarang-larang anak yang sering membawa pulang sampah, mengumpulkan sampah, dan mengais-ngais tempat sampah orang, sekarang akhirnya sudah tidak lagi.

Sekarang, saya yang mengumpulkan sampah juga.

Begitulah terkadang aturannya, Nak. Kalau tidak segera tobat, maka Ibu bukan lagi lawan, melainkan berubah menjadi saingan berat.

Kalau biasanya Alif memulung aneka warna tutup botol, karet gelang, kayu absurd, selang tetangga yang rusak dan dibuang, indikator toren yang tak dianggap, bahkan kembang ilalang, maka job saya lebih expert, yakni mengumpulkan keresek bekas, wadah minuman plastik bekas, botol bekas, kulit telur, kulit bawang, biji buah-buahan, bahkan air cucian beras pun saya simpan. Dua pengumpul sampah ini jarang rebutan kecuali ketika bertemu wadah thinwall dan mika biskuit.

Kadang kalau kurang komunikatif, saya dan Suami bisa berkolaborasi melakukan hal yang sia-sia karena beberapa hal yang saya anggap berharga bisa jadi dianggapnya sampah.

Saya ngumpulin kulit telur, saya sisihkan, saya tinggal mengurus hal lain.

Suami perfeksionis lewat, mendeteksi kulit telur tadi sebagai sampah, lalu membuangnya.

Besoknya saya ngumpulin kulit bawang, saya sisihkan, saya tinggal mengurusi hal lain.

Suami pendiam dan perfeksionis lewat lagi, mendeteksi kulit bawang tadi sebagai sampah sisa dapur, lalu membuangnya dalam diam.

Begitu terus sampai kami sama-sama gemas.

Yang gemas duluan tentu saja saya.

Pada akhirnya saya harus menjelaskan niat terpendam untuk membuat banyak hal penting dalam merawat tanaman secara organik. Sesuatu yang saya tahu Suami pasti tidak suka karena tahu itu akan ribet, menyita waktu, berpotensi membuat masalah baru, dan kalau gagal, sudah jelas dialah yang harus bertanggung jawab.

Hampir saja saya tidak mendapat izin mengolah sampah tadi kalau saja saya tidak mengancam, "Ya sudah, kalau ndak boleh, berarti Mas siap, ya, membelikan pupuk kapan pun aku butuh, ya? Sama pestisida, pot, wadah-wadah semai, atau apa pun yang diperlukan buat merawat tanaman?"

Dia diam. Lama. Tidak ada jawaban.

Saya mulai mereka-reka pepatah diam mana yang pantas dijadikan acuan.

Diam itu emas.

Diam-diam menghanyutkan.

Diam-diam dua tiga pulau terlampaui.

Tapi karena saya syar'i, maka saya memilih pepatah arab.

Assukuutu yadullu ala na'am.

Diam tandanya iya.

Saya langsung merasa bijaksana, cantik, rajin, kalem, dan syar'i.

Sejak itu, hari demi hari, saya dan Alif berbalapan mengumpulkan sampah. Siapa yang sampahnya paling banyak, dia yang dibuang.

Beberapa minggu kemudian, Suami mempertanyakan sampah-sampah itu.

"Ini gimana kulit telur sebanyak ini?" Dia menunjuk sekantung kulit telur yang saya singkirkan dan lupakan sebab mulai jijik.

Giliran saya yang diam. Sambil nyengir.

Itu dia baru nemu satu. Yang lain masih banyak.

"Tidak usah bikin beginian. Itu kan tanamannya sudah pakai media tanam, sudah ada pupuknya juga. Sudah bagus itu. Mau yang gimana lagi? Apa yang sampai akarnya menggembung besar?" Suami mulai halu.

Ya kali Bunga Marigold, Zinnia, sama Cosmos akarnya menggembung seperti Kamboja Jepang.

Tapi sebagai pelaku yang kurang bertanggung jawab, saya tidak menjawab. Bertahan di mode nyengir dua belas gigi.

"Dibuang saja, ya?" Ini bukan minta izin. Ini cuma ngasih tahu.

Saya, dengan cengiran hampir kering, mengangguk saja. Asal dia saja yang membuang.

"Nanti kalau tanamannya terlalu sehat, terus batang sama akarnya menggembung besar, gimana? Mau ditimbang? Biar apa?" ucap Suami, yang berkat saya, sudah tidak lagi jadi pendiam.

Saya cuma ngikik membayangkan kontes sapi sehat.

"Nanti jadi Hulk!" Cetus saya yang halu sendiri membayangkan menanam Hulk.

Sementara Suami membereskan kerusuhan, saya hanya menontonnya saja sambil tertawa-tawa perkara Hulk ikut lomba sapi sehat.

Bahagia sekali hidup kami. Saya membuat masalah, Suami yang bertanggung jawab.

Sampai tiba saatnya saya membuat MOL atau Mikroorganisme Lokal. Semacam pupuk cair organik merangkap starter komposter dan pestisida organik yang dibuat dari air cucian beras, sampah dapur, sedikit gula, dan nasi basi atau benda busuk tertentu.

Tiba-tiba saja salah satu galon di rumah menjadi korban. Dan saya baru tahu hari ini, dari video tutorial di yutub, bahwa ternyata orang-orang paling umum cuma pakai botol.

Sementara itu, MOL yang saya buat susah payah, yang satu galon besar seperti mau dipakai mandi itu, sepertinya terancam gagal.

MOL yang wajib dibuka sehari sekali itu, seminggu ini bertabiat aneh.

MOL yang saya perjuangkan.

MOL yang sekian lama saya pelihara.

MOL yang demi membuatnya, saya gadaikan harga diri biar dianggap expert. Efek kebanyakan sesumbar.

MOL itu, sudah empat hari ini, setiap dibuka, bau tai.

Jangankan memulangkan harga diri. Membayangkan tausyiah Suami pendiam aja saya enggak berani.

😭

Lamongan, 13 September 2025.










Komentar

Postingan Populer