Musuh Bebuyutan



Dulu, musuh bebuyutan saya adalah adik pertama. Lalu begitu lahir satu adik lagi, gelarnya pindah ke si bungsu.

Saking ngeselinnya adik bungsu ini, saya dan adik pertama sering lempar-lemparan status.

"Ya gitulah kelakuan Zafar. Urus sana, Fif. Aku lihat aja muales. Itu adikmu, tahu!" lempar saya ke mantan musuh yang kini berubah menjadi sekutu sebab adanya musuh bersama.

Afif, adik saya yang tinggi dan besarnya membuat Alif ragu kalau saya adalah anak pertama, tak terima.

"Adikmu itu. Aku Ndak punya adik!"

Dih!

"Adikku cukup satu aja. Dan bukan yang itu," elak saya, mereshuffle silsilah keluarga.

"Ya kalau itu adikku, berarti itu adikmu juga. Kan aku adikmu." Dia ngeyel. Giliran gini aja saya diakui.

Kayaknya salah reshuffle ini. 

Ya udah, karena saya tegas dan tidak suka pejabat, eh, adik yang tidak berbobot, ya udah, saya bubarin aja karena percuma reshuffle kalau enggak berguna.

"Aku ndak punya adik. Kalian berdua anak pungut semua. Nemu di pembuangan sampah pinggir kali sana."

Saya dan sekutu pungut pun ngakak bareng. Untung enggak didengar DPR yang enggak bisa saya pilih sendiri itu.

Tapi belakangan, ketua DPR uring-uringan juga. Dua hari yang lalu, mbah kakungnya Alif itu mengeluh tentang kelakuan satu-satunya anak yang tersisa di rumah.

Sebagai anak pertama korban mal praktek, saya pun menambahi keluhannya.

"Zafar itu memang agak lain, kok. Masih ndak terima aku, Yah, waktu terakhir pulang dari sana. Kok ya tiba-tiba itu anak jadi baik. Enggak ada yang nyuruh, tahu-tahu bantuin ngangkat tas sampai ke pinggir jalan tempat nunggu Gocar. Ternyata endingnya malak. 'Lima puluh' gitu katanya. Tak tempeleng kepalanya. 'Lambemu!'. Tak jawab gitu."

Mbah-mbah menolak tua itu ngakak di sana.

"Iya, tah, Nduk?" Gitu doang responnya.

Aturan kan yang begitu itu disiksa apa kek gitu. Enak bener. Coba saya dulu, minimal dapat stempel gagang sapu.

"Mangkanya, Yah, ajarin yang bener itu anak laki-laki. Keseringan dimanja. Coba sekali-kali dilepas di terminal Bungurasih sana, biar saingan sama calo-calo bus. Untung-untung kalau pulang dapat duit banyak. Lumayan"

Bukannya terprovokasi, mbah-mbah yang ngakunya kalau lagi marah setan pun enggak kelihatan itu malah makin ngakak. Ya udahlah, males, telpon saya kasihin ke yang lebih ahli bikin emosi aja, cucunya.

😌

Lamongan, 9 September 2025.

Komentar

Postingan Populer