Memasak Bersama Mertua


Titik tertinggi kesuksesan seorang menantu adalah ketika dia bisa memasak bersama mertua dan tidak sedikit pun harga dirinya berkurang.

Itulah saya, kemarin lalu, saat libur panjang akhir pekan sebab tanggal merah Maulid Nabi.

Ibu mertua dan mbak ipar saya adalah seorang petani dan pekebun sejati. Hampir setiap hari, kalau tidak sedang musim panen padi, mereka bergantian ke ladang untuk memanen sayur-sayuran seperti kacang panjang, kangkung, timun, atau apa saja sesuai musim. Besoknya, sayur-sayuran itu akan dijual lagi sebagai sampingan di lapak getuk milik Ibu.

Saya selaku menantu bungsu, sangat tidak bisa diharapkan. Satu-satunya momen saya pernah menengok ladang mertua adalah sewaktu baru menikah dulu. Itu pun sebagian variasi kehidupan saja saking enggak tahunya saya harus ngapain di rumah mertua.

Satu-satunya usaha saya agar terlihat terlibat dengan dunia perkebunan Ibu tidak lain adalah dengan membantu memilah-milah sayuran dan memasak sebagiannya untuk dimakan bersama. Tentu dengan pembagian tugas di mana yang bagian saya adalah yang paling kurang berfaedah dan bisa digantikan oleh mahluk lain mana pun. Yakni mengikat bendelan sayur. Sebab sekalinya ikut memilah, saya kebanyakan bertanya sebab tidak bisa membedakan mana yang bagus dan mana yang tidak. Di mata saya, semua itu hanyalah benda-benda hijau yang bisa dimakan dan membuat anak saya pusing.

Saat sesi memasak tiba, barulah saya terlihat agak berguna.   Merasa sudah cukup ahli membuat urap-urap, saya mengajukan diri untuk memasak menu itu saja kepada ibu mertua dan mbak ipar. Masaknya banyak pula seperti orang mau jualan.

Nah, gara-gara mengajukan diri itulah, semua tanggung jawab memasak itu berpindah langsung hampir seluruhnya kepada saya, meski tetap dibantu kalau tidak mau masakannya selesai saat hari sudah gelap.

Saya sih enggak masalah mau memasak ditemani presiden atau mertua. Saya kasihan mereka, yang belum tentu kuat mental melihat cara saya memasak yang totalitas, penuh presisi, dan ketelitian tinggi.

Perkara bawang, misalnya. Saya suka pakai banyak bawang. Mengupasinya satu per satu dengan hati-hati, kemudian mencucinya dan sekalian cuci tangan. Setelah dicuci, bawang-bawangan itu kemudian dicincang setipis kesabaran, lalu cuci tangan lagi. Dan kalau mau menghaluskan bawang dengan ulekan, saya yang tak pandai mengulek, terpaksa harus mengiris-iris tipis bawang dan lain-lain dulu sebelum mengulek. Habis itu, cuci tangan.

Berikutnya, memotong sayur. Kangkung, misalnya. Pertama, saya akan mengambil setangkai kangkung, lalu memotongi setiap helai daunnya menjadi dua atau tiga, satu per satu, baru tangkainya yang muda. Masing-masing helai daun saya perhatikan baik-baik. Yang ada bekas dimakan ulat, saya buang. Ada bercak kuningnya, saya buang. Ada telur ulatnya, saya buang. Kangkung sekarung, tinggal sebaskom. Setelah itu, cuci tangan. Abaikan mbak ipar yang menahan napas dan mertua menatap putus asa.

Paling spesial, memarut kelapa. Rasanya semua orang ingin merebutnya dari saya. Papan parutan gonjang-ganjing, potongan kelapa gemetar di tangan. Dua orang di sekitar mendadak berasa nonton film horor.

Kalau sampai mereka mencegah, saya sudah siap dengan kalimat pertahanan.

"Jangan panggil aku anak kecil, Paman! Eh, Ibu!"

Sepotong kecil kelapa, diparut dengan mesra namun sarat akan pesan perjuangan selama setengah jam. Saat saya selesai dan ibu mertua merasa kurang, beliau dengan cepat memarut sendiri, lebih banyak dari hasil parutan saya, dan cukup lima menit.

Tidak lupa, setelah itu, saya cuci tangan.

Berhubung proses memasak sudah terlalu lama dan saya mulai lelah, saat kelapa, bumbu, dan sayur-sayuran sudah siap, saya berlenggang pergi meninggalkan arena. Kasihan penontonnya. Tinggal mbak ipar yang menyelesaikan proses  memasak berikutnya yang tinggal merebus atau mengukus saja.

Luar biasa. Saya tidak menyangka memasak bersama ipar dan mertua bisa seberkesan ini, tanpa sedikit pun harga diri yang berkurang, sebab memang sudah lama tidak ada stoknya.

Hampir tidak ada komplen, kecuali mimik wajah yang seperti nonton sinetron azab ilahi dan sedikit pertanyaan tak tertahankan dari Mbah Uti-nya Alif.

"Iku kacang panjange langsung diiris kabeh bareng-bareng ae ginyo!" Beliau menyarankan agar saya mengumpulkan beberapa lonjor kacang panjang dan memotongnya sekaligus di talenan alih-alih memotong satu demi satu, sepotong demi sepotong.

Saya bisa mengerti maksud baik wanita yang telah melahirkan anak paling pendiam di kampung itu. Tapi mau bagaimana lagi....

"Gini aja lho enak, Buk, sambil tak perhatikan satu-satu. Siapa tahu ada ulatnya, nanti malah ayah Alif Ndak mau makan kalau sampai nemu ulat.  Juga tak ukur semua potongannya biar panjangnya sama. Bagus, kan, Buk?"

Sejak itu, Beliau tidak bertanya apa pun lagi sama sekali.

🥰

Lamongan, 14 September 2025.








Komentar

Postingan Populer