MBG Ibu-Ibu
Sudah sebulan terakhir Alif dapat MBG di sekolah. Meski tidak pro, saya tidak ingin menyia-nyiakan makanan yang sudah jadi dan tinggal dimakan ini. Sebab demi makanan gratis nan bergizi ini, banyak hal telah dikorbankan.
Maka kepada Alif saya pesankan untuk tidak sampai membuang makanan yang diadakan dengan susah payah itu. Jangan dijual juga, sebagai antisipasi kalau-kalau 'tidak sengaja' laku.
Berhubung Alif hampir tidak pernah cocok dengan masakan selain buatan ibunya kecuali menu ayam krispi, dari pada sisa dan terbuang, saya membawakan kotak bekal kosong agar makanan itu bisa dibawa pulang dan tidak tersia-sia.
Tapi gara-gara itu, justru Alif selalu selalu membawa pulang semua menu kecuali susu dan buah.
Saya jadi khawatir.
Bukan apa-apa, saya hanya takut kalau sampai suatu saat ada inspeksi atau wartawan nyasar dan kebetulan mewawancarai Alif, lalu ditanya kenapa makanannya dibawa pulang.
Karena jawabannya terang sekali di kepala saya.
Anak itu, tidak diragukan lagi, akan menjawab dengan dramatis.
"Buat Ibu di rumah."
Wartawannya mungkin terharu.
Saya doang yang malu.
😏
Lamongan, 10 September 2025.
*In frame, dokumentasi menu MBG pekan lalu.
Komentar
Posting Komentar