Layang-layang


September di sini musim angin. Mulai banyak layang-layang bertebaran di langit. Alif yang mulai fomo, enggak mau ketinggalan. Dia bertebaran juga di langit, eh, maksudnya, dia pengen main layangan juga.

Berhubung tangannya terlalu kecil untuk main layangan dan potensi omelannya terlalu panjang meski sekadar untuk menanggung kegagalan saat belajar main layangan, maka pendidikan bermain layangan saya tunda dulu. Biarlah dia nonton aja. Lagian di sini bocil seusianya belum ada yang bisa main layangan.

Pengetahuan Alif dalam bermain layangan sama sekali tidak ada. Bahkan minus. Penyebab minusnya tidak lain karena dia bahkan masih bingung kenapa kalau layangan putus kok banyak yang ngejar padahal tinggal beli aja. Murah.

Murah dalam bayangan Alif ini entah berapa, karena standar murah tidaknya bergantung isi dompet Alif sendiri. Btw, saat ini isi dompet Alif empat puluh ribuan. Kalau Alif tahu harga layangan sebenarnya, dengan stok uang sebanyak itu, nanti bukannya main malah bakulan.

Untungnya, lama-lama Alif bosan juga nonton orang main layangan di lapangan. Dia beralih ke menggambar layangan bersama komplotannya. Anak lain bermain layangan dari sore sampai menjelang maghrib enggak pulang-pulang, Alif dan temannya menggambar dan mewarnai layangan dari sore sampai mau maghrib enggak pulang-pulang. Lumayan biar kulitnya tetap terlihat sepuluh tahun lebih muda.

Sepulangnya di rumah, dia menggambar lagi layang-layang seperti yang dia pelajari dari hasil nonton yutub di rumah temannya. Ternyata memang bukan bentuk layang-layang biasa, melainkan versi modifikasi kreatif para konten kreator yutub. Yang di yutub repot-repot mendesain, meraut bambu, mengumpulkan bahan, memotong, dan merangkai, sementara Alif cukup menggambar hasilnya saja. Sampai di sini saya masih merasa aman dan tidak melihat adanya ancaman.

Besoknya, di sekolah, sifat sesumbarnya kumat. Dia nantangin kakak kelas. Berbekal pengalaman sebelumnya dan skill sketsa yang lumayan, Alif menang. Kakak kelasnya bahkan tidak percaya kalau itu hasil gambarnya sendiri.

Lalu tibalah saatnya, ketika teman-teman sekelas melihat gambar layang-layang buatan Alif. Mereka memuji dan mengagumi. Tapi tidak cukup sampai di situ.

"Alif ndak jualan, kok, Ibu. Shifa sendiri yang minta digambarkan layangan seperti yang Alif buat itu. Nggambarnya juga di bukunya Shifa kok. Katanya bagus. Terus Alif dikasih uang dua ribu." Demikian kilahnya di tengah-tengah sesi sharing sepulang sekolah beberapa hari yang lalu.

Nambah lagi korban marketing satu lagi.

Yang kemarin-kemarin satu pun belum ada yang saya mintai maaf. Saya tidak seberani itu. Mental belum siap.

Saya sudah melarang Alif mulung.

Saya sudah melarang Alif jualan baik itu hasil kreasi daur ulang maupun peralatan sekolahnya.

Saya sudah melarang Alif jualan jawaban soal ulangan.

Saya sudah melarang Alif jadi kurir antar uang.

Saya sudah melakukan yang terbaik, lebih dari yang ibu-ibu normal lain pernah lakukan.

Saya sudah mencegah, menjauhkannya dari transaksi sampah, transaksi kurir, dan transaksi ilegal saat ujian.

Ternyata itu semua belum cukup.

Alif bahkan masih bisa menemukan bisnis baru tanpa modal, tanpa persaingan, tanpa kecurangan, bahkan tanpa penawaran dan trik marketing lagi.

🤦

Lamongan, 10 September 2025.



Komentar

Postingan Populer