Laut
Sepanjang hidup, bagi saya, laut adalah perairan yang luas, asin, dan memusingkan. Khasiatnya yang paling teringat hanyalah seputar tempat hidup ikan dan dapat menyembuhkan beberapa penyakit kulit. Tapi baru di usia kepala tiga ini saya tahu bahwa ada khasiat laut yang luar biasa berharga.
Siang itu, sepulang sekolah, saat masih tinggal di perumahan sebelumnya, Alif menikmati susu kotak pemberian seorang kenalan. Dari luar, tidak ada yang aneh dengan susu kotak itu. Tidak basi, tidak mudah diabaikan, dan tidak perlu bayar. Hanya saja, efek sampingnya membuat saya curiga.
"Ibu, ini tak simpan buat nanti aja," ucap Alif meletakkan susu kotak yang masih sisa separuh.
Sebegitu sukanya sampai Alif berencana memperpanjang masa aktif susu kotak yang isinya tak seberapa itu.
"Jangan, ya. Langsung dihabiskan saja. Kalau sudah telanjur dibuka, tidak boleh lama-lama, harus langsung dihabiskan," jelas saya baik-baik.
"Oh, kenapa?"
"Karena mudah membusuk."
"Oh, tapi kalau belum dibuka, sampai kapan saja tidak apa-apa?"
"Ya tidak, sesuai tanggal yang tertulis di wadahnya itu. Lewat itu, ya, sudah ndak bisa."
"Kenapa begitu?"
Enak bener memang kalau tinggal kenapa-kenapa. Sadarlah, Nak, Kau ini bukan anaknya Chat GPT.
Tapi karena saya ibu teladan yang baik dan pintar, dengan sabar saya menjawab pertanyaan anak kesayangan.
"Iya, karena ada pengawetnya. Kalau sudah dibuka, pengawetnya sudah tidak mempan lagi karena sudah terkena udara dan bisa terkena apa saja seperti bakteri, kuman, dan masih banyak lagi."
Terlepas dari susu UHT pakai pengawet atau tidak (karena sudah menggunakan teknologi UHT), tetap saja saya tidak yakin. Juga sekalian memukul rata seperti minuman-minuman kemasan lainnya. Biar gampang negurnya nanti.
Tapi ternyata, bukannya makin gampang, malah makin runyam.
"Kenapa harus dikasih pengawet?"
"Ya biar awet."
Masa biar cantik?
"Berarti, kalau dikasih pengawet, bisa awet, ndak jadi busuk?"
"Iya. Begitulah. Air kalau diam, itu jadi gampang busuk. Kecuali kalau mengalir."
"Loh, tapi air laut kok tidak membusuk?"
Saya diam. Instropeksi. Istighfar. Hampir aja taubat, kalau saja tidak segera menemukan jawaban asal-asalan berikutnya:
"Karena air laut itu asin sekali karena mengandung garam yang banyak sekali. Nah, garam itu kan pengawet alami."
Iya, kan?
Bener, kan?
Saya jadi ragu sama diri sendiri. Seperti ada yang tidak benar, entah apa. Belum sempat saya mencerna omongan sendiri, Alif keburu heboh.
"Apaa? Garam itu pengawet alami? Waaahh, berarti...."
Alif enggak sempat menyelesaikan closing twist endingnya karena bagian itu tiba-tiba diambil alih oleh ayahnya sendiri.
"Alif mau nyemplung ke laut, begitu, kan, maksudnya?"
"Biar abadi, awet muda, dan hidup selama-lama-lama-lamanya nggak mati-mati?" tambah saya.
Alif ngakak bahagia sambil mencari garam di rak bumbu.
🤦
Lamongan, 6 September 2025.
Komentar
Posting Komentar