Ketika Anak Lapar


Cobaan orang belajar istiqomah menulis memang gak habis-habis.

Sudah susah payah membereskan urusan rumah biar punya waktu buat bikin tulisan meski cuma catatan harian. Sudah menyiapkan fisik dan mental. 

Sudah bikin kopi. 

Sudah siapin sajen. Ehm, jajan, maksudnya.

Sudah nulis tinggal endingnya doang. 

Tiba-tiba anak pulang sambil mengeluh lapar.

Biasanya juga disiapin makanan enggak dimakan-makan. Biasanya bahkan harus dipaksa dulu, gelut dulu, ricuh dulu.

Giliran ibunya sibuk, dia merengek.

"Iya, bentar. Ini tinggal sedikit lagi," jawab saya cepat-cepat sebab ide sudah di ujung jari. Lepas dikit langsung hilang.

"Ibuuuuu, lapar," ucapnya beberapa detik kemudian.

Saya diam. Fokus mempercepat menulis.

"Ibuuuuuuuu."

"Ibuuuuuuuuuuuu!"

"Ibuuuuuuuuuuuuuuu."

Begitu terus tiap tiga detik sekali.

Bukan tidak bisa ambil makanan sendiri, tapi sore tadi memang menunya dadar siram bumbu pecel sebab sedang enggak mood masak. Saya kalau bikin dadar selalu fresh ketika mau makan saja.

Sebenarnya enggak lama. Sudah tinggal posting doang. Sedikiiiiiit lagi. Tiba-tiba Alif mengultimatum.

"Kalau Ibu ndak segera siapkan makan, Alif akan teriak lapar di depan rumah."

🏃🏃🏃

Lamongan, 10 September 2025.

Komentar

Postingan Populer