Invasi Kebun
Saat baru pindah, rumah ini kosong dengan halaman belakang kurang lebih satu setengah kali tujuh meter dan tempat parkir mobil yang luas untuk ukuran orang yang enggak punya mobil. Tanpa kanopi. Tanpa gerbang.
Dua bulan lalu, halaman belakang mulai dirapikan. Wadah-wadah semai mulai berjejeran, tiga empat tray ala kadarnya dari bekas thinwall tahu sutra dan kantung plastik hitam tebal bekas packing.
Satu bulan lalu, gelas-gelas plastik berbagai ukuran dan ketebalan mulai mengisi ruang. Tempat kosong itu mulai agak bisa disebut kebun. Beberapa tanaman yang sudah tumbuh cukup besar dipindah ke polybag dan dipindah ke halaman depan.
Hari ini, kebun belakang sudah penuh, meski tanaman-tanaman belum berbunga, kecuali tanaman rambat seperti Bunga Telang yang saya bawa dari rumah sebelumnya dan tanaman sebangsa timun yang tumbuh sendiri dengan subur.
Benih-benih tomat dan terong yang baru disadari kalau dulu terlalu banyak disemai oleh ayah Alif, mulai merepotkan. Setelah beberapa kali pindah media, akhirnya, karena sudah berukuran besar dan mulai berdesakan, tanaman-tanaman tomat itu saya pindahkan ke depan, memenuhi sebagian area carport.
Sekarang saya sudah mirip penjual tanaman. Di mana-mana ada tanaman dalam polybag.
Sepeda motor ayah Alif mulai kesulitan menemukan jalur keluar masuk dan parkirnya. Tanaman yang dia semai sendiri, kini menjajah area santai sepeda motor matic-nya.
Sebenarnya, itulah alasan kenapa saya sampai order tanah dan bambu di toko oren. Agar tomat-tomat itu bisa tumbuh subur tanpa berebutan nutrisi tanah, tidak roboh oleh hujan, dan mendapat cukup cahaya matahari. Cuma rebutan lahan aja sama motor.
Dari awal order sampai memindah tanaman tomat ke carport, saya sedikit pun tidak memberi spoiler kepada Suami. Tahu-tahu orderan datang. Tahu-tahu tanaman saya pindahin ke depan. Dia tidak bisa tidak kaget, juga tidak bisa mencegah saya yang sudah bertekad kuat dan tak terhentikan. Pindahin aja lagi sendiri kalau mau. Satu-satunya peran dia hanya saat saya minta tolong membelah potongan bambu yang menurut saya terlalu tebal.
Bambu untuk turus tomat itu saya order sepuluh batang ukuran 50 cm. Masing-masing hanya lima ratus rupiah saja. Belum termasuk ongkir. Ada diskonnya juga.
Cara minta tolong seorang wanita itu ada dua macam.
Versi halus....
"Mas, kayaknya ini bambunya masih bisa dibelah lagi. Biar banyak juga. Menurut Mas gimana?"
Versi sangat halus....
Saya enggak ngomong apa-apa. Cukup ambil satu bambu dan satu gergaji panjang. Tanpa bakat dan wawasan pertukangan, bambu gepeng itu saya gergaji ujung tengahnya menggunakan gergaji yang besarnya sama dengan bambunya. Mengerjakannya di depan kamar. Sambil tangan bergetar dan gergaji terguncang-guncang.
Ternyata suami saya lebih suka cara versi sangat halus. Terbukti saat tidak lama kemudian dia mengerjakan semuanya sampai selesai di halaman belakang.
Hanya saja, berkat proyek gergaji amatiran itu, salah satu jari saya luka. Enggak berdarah, tapi terlihat goresannya.
Saya yang sensitif terhadap penderitaan, memperlakukan jari yang luka itu dengan penuh perhatian. Saat cuci piring, berkali-kali melihat jari. Mau cuci baju apa lagi. Baju seragam putih Alif terutama, yang kaya akan kebutuhan sabun cair dan tekad baja.
Maka sambil mencuci, menyikat, saya berulang kali memeriksa jari telunjuk kiri. Tidak lupa menyiramkan air dulu di permukaan kulit agar bekas sayatan terlihat jelas baik-baik saja meski ada perihnya sedikit.
Begitu terus berulang-ulang.
Niatnya kalau nanti jadi makin perih sebab terkena sabun, saya mau langsung mengadu ke Suami.
Tapi karena saya wanita kuat, cucian seragam jelmaan kain pel itu saya selesaikan juga, berikut seragam-seragam lain yang sengaja saya kumpulkan bersama untuk dicuci secara lebih serius.
Alhamdulillah, sampai selesai, jari telunjuk kiri saya baik-baik saja. Tidak bertambah parah. Malah makin tidak kelihatan, entah kenapa. Padahal perihnya sedikit terasa.
Saat selesai mencuci dan saya sudah membersihkan diri, sebuah fakta terkuak dari kulit yang memutih dan menebal bekas terendam air dan detergen saat mencuci.
Ternyata saya lupa. Atau baru sadar.
Bahwa yang luka sebenarnya adalah jari telunjuk kanan.
Untung belum sempat mengadu.
🤦
Lamongan, 16 September 2025.
Komentar
Posting Komentar