Syukur



Alhamdulillah, sepertinya tahun ini pengalaman hidup saya agak banyak, terutama bulan ini. Kebiasaan saya sudah mulai seperti kebiasaan para crazy rich yang dikit-dikit beli tanah.

Sore tadi, ayah Alif pulang membawa kabar gembira. Dia beli tanah lagi. Dua kali lipat lebih banyak dari sebelum-sebelumnya. Lagi-lagi tanah bertuah yang subur dengan bonus cocopiet, kompos, dan sekam bakar di dalamnya. Semua tertera jelas di karungnya.

Belum tentu ada orang yang jual tanah dengan informasi lengkap sampai ke kandungan tanahnya. Selalunya kalau saya lihat di plang-plang pinggir jalan, orang hanya memberitahu ukuran dan nomor telepon penjual saja. Atau kalau beruntung, dengan harganya. Tak pernah bilang kalau tanahnya itu subur atau tandus.

Malam ini, saya mempertimbangkan untuk mengabari orang tua lagi. Tapi mengingat sebelumnya, saat saya mengabari dapat door prize mesin cuci itu Mbah Kakung Alif tidak percaya, mungkin kapok, maka rencana itu saya tangguhkan dulu untuk menakar-nakar risiko. 

Entah nantinya saya akan dikutuk jadi apa. Karena tidak semua orang mau belajar dari sejarah ibunya Malin. Tapi sepertinya tidak jadi saja. Saya belum siap sering-sering dilihatin dan dikunjungi orang banyak.

Yang penting syukur saja dulu. 

Lihatlah, Tuhan, tanah ini bahkan per kilonya hamba rayakan, apalagi sehektar.

🥰

Lamongan, 31 Agustus 2025.

Komentar

Postingan Populer