Sopan


Kemarin, karena kebanyakan berkebun dan masih mengurus rumah juga, malamnya saya lelah luar biasa. Rutinitas menemani Alif belajar jadi enggak sanggup lagi dikerjakan, apalagi sebelumnya kalau Alif belajar dengan saya ujung-ujungnya perang teori. Saya teori matematika, Alif teori ekonomi, negosiasi, dan gampangisasi.

"Mas, malam ini Alif ndak belajar ndak pa-pa, ya? Aku capek sekali," keluh saya meski sudah tahu bapak-bapak satu itu pendukung lebih baik bermain dari pada belajar pelajaran sekolah. 

Tapi demi terlihat lebih mengutamakan belajar sekolah, dia dengan sok berat menjawab, "Ya sudah, tapi anaknya dikasih siraman rohani saja, ya?"

Saya diam mencerna kalimatnya. Gimana mau ngasih siraman rohani kalau saya sendiri lebih sering kebakaran? 

Meski begitu, instruksinya saya laksanakan juga. Istri sholehah. 

Menjelang tidur, Alif saya nasihati dengan seluruh sisa tenaga dan kesadaran yang ada.

"Alif, ingat tadi Ibu menegur waktu Alif melangkahi buku? Jangan gitu lagi, ya? Ndak sopan! Buku itu ditaruh di meja, jangan sampai bertebaran di lantai apalagi sampai dilangkahi. Tidak sopan. Makanan juga, jangan pernah sampai melangkahi makanan. Barang-barang lainnya juga, entah itu minuman, jajan, meja. Bantal juga ndak boleh diinjak, itu tempatnya kepala. Dipinggirkan dulu, atau kembalikan ke tempatnya. Ngerti?"

Alif menyimak sambil merenungkan apa yang ibunya ucapkan. Apa yang lebih baik dari anak yang memperhatikan betul apa yang diucapkan ibunya?

Saya yakin kali ini Alif mengerti dan paham, wong saya pakai bahasa manusia paling sederhana. Buktinya, sehabis saya bicara, Alif langsung merespon dengan tangkas.

"Oh, berarti guru olahraga Alif di sekolah itu ndak sopan! Masa alat-alat olahraga itu ditaruh di tanah, disuruh dilangkahi, disuruh dilompat-lompati? Kan ndak sopan!" Alif emosi.

Saya lebih emosi lagi. 

"Ya mesti aja dilompat-lompati! Wong itu memang dibuat untuk dibegitukan, biar anak-anak bisa latihan olahraga. Gimana, sih?" pekik saya sampai tersengal.

Alif nyengir. Terlihat belum ada tanda-tanda insaf. Saya jadi makin emosi lagi. 

"Kau tahu sepeda motor? Tahu? Itu kenapa didudukin? Jangan gitu, ndak sopan! Harusnya kau angkat aja sampai ke sekolah sana sama Ayah!" 

Saya diam sejenak mengatur napaf, terus lanjut lagi. Alif tinggal ngikik aja dari tadi. Insaf sih belum ya.

"Tahu kasur? Kenapa kau tidurin, ditibanin, diguling-gulingin setiap hari? Harusnya diangkat aja semalaman biar sopan! Besoknya dipajang di dinding!"

Malam-malam begitu, jam sembilan, saya sudah mau nangis saking capeknya. Muka saya panas. Dada berdebar-debar. Sambil kelepasan ngik-ngik juga bersama Alif.

Lalu ayah Alif, yang sedari tadi ada di situ tapi tidak terlibat tawuran, yang sepertinya paling waras dan sibuk dengan pekerjaannya, yang seperti berada di universe yang berbeda dan hanya hologramnya saja yang di situ, tiba-tiba saja menyahut....

"Alif tahu kloset di WC?"

Saya langsung nangis.

😭

Lamongan, 27 Agustus 2025.

Komentar

Postingan Populer