Picky Eater
Saya sering penasaran sama anak orang-orang yang tubuhnya endut dan berisi. Vitamin apa yang dikasih sama orang tuanya. Apa lagi kalau kulitnya bersih dan cerah. Terlihat makmur, adem, ayem, tentrem, dan terpelihara dengan baik.
Lalu saya melihat anak sendiri yang makin hari makin kurus. Padahal makan tetap tiga kali sehari. Setiap hari selalu diusahakan ada susu, sayur, buah, dan protein. Belum lagi karena akhir-akhir ini sering nonton orang main layangan, main sepak bola pas cuaca panas terik, suka lari-larian muterin lapangan, jadilah kulitnya menggelap terpanggang matahari. Terlihat kekurangan, kelaparan, dan tidak terpelihara dengan baik oleh ibu tiri.
Padahal masalahnya simpel: dia pilih-pilih makanan dan kebanyakan bergerak.
Soal pilih-pilih makanan ini, Alif tidak banyak beralasan. Dia hanya berdiplomasi.
"Alif ini, ya, Ibu, dikasih apa saja mau. Adanya mi instan, tidak apa-apa. Adanya ayam geprek, daging sapi juga tidak apa-apa." Demikian ucapnya saat umur lima tahun.
Lalu sekarang, ya tetep, masih juga berdiplomasi.
Siang tadi, misalnya. Pukul satu, dia pulang sambil membawa sisa menu MBG di sekolah. Agak kurang cocok disebut sisa karena hanya berkurang seukuran sekali cicipnya Chef Juna yang menyesal mencicipi masakan peserta Master Chef yang masuknya jalur orang dalam.
Padahal menunya lumayan oke. Nasi goreng, telur dadar, irisan timun, dan tempe goreng tepung. Hanya buahnya yang dimakan oleh Alif.
"Kenapa masih banyak? Alif kan suka nasi goreng, apalagi ada dadarnya." Saya mengintrogasi.
"Ada kecut-kecutnya, Ibu," jawabnya ogah-ogahan.
"Ini lho kecutnya dari rasa saos. Bukannya Alif suka saos juga?"
"Alif itu, Ibu, sudah terlanjur terbiasa sama masakannya Ibu. Jadi Alif ndak cocok sama masakan lain."
Seharusnya saya tersanjung, tapi tahu karena strategi ini sudah langganan.
"Halah, biasanya juga Ibu masak enggak semua dimakan. Lihat Ibu masak sayur asem ada cambahnya aja Alif langsung pusing. Apa saja yang Ibu masak kalau ada sayurnya, Alif langsung pusing. Padahal belum juga dimakan, baru dilihat proses masaknya."
Alif diam, sadar ibunya sudah kebal sama jurus andalannya.
"Masa maunya makan yang enak-enak terus. Dikit-dikit beli tahu bulat. Bilangnya lapar, lihat masakan Ibu ada sayurnya langsung kenyang. Tapi ada mobil tahu bulat lewat langsung berangkat beli. Apaan!" Saya belum kelar.
"Ini pasti nunggu orang jualan tahu bulat itu, kan? Pantesan ndak gemuk-gemuk. Nanti kalau sampai Alif kurus sekali, ndak punya tenaga, ndak kuat lari-lari, terus ada yang ngejek 'Alif kurus tinggal tulang sama kulit', Ibu pasti ndak terima. Salah itu. Ndak betul."
Alif masih diam. Dia tahu betul apa yang akan saya ucapkan selanjutnya karena ini sudah diulang-ulang beberapa hari ini. Jadi, ya, tabah saja saat saya menutup kuliah siang hari ini dengan kalimat....
"Ibu akan marah dan bilang, 'Kata siapa tinggal tulang sama kulit? Yang bener itu ya tulang, kulit, sama tahu bulat!'."
😏
Lamongan, 26 Agustus 2025.
Komentar
Posting Komentar