Menantu ft Mertua
Lebaran Idul Adha lalu, sewaktu saya masih tinggal di perumahan sebelumya, hewan kurban baru disembelih di hari kedua, sehari setelah lebaran. Panitia menyepakati demikian karena hampir semua orang di perumahan itu mudik. Kebanyakan mereka adalah orang-orang sibuk dengan jadwal kerja padat dan tempat kerja jauh di luar kota. Kesempatan libur kerja mereka manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Musholla ramai saat Sholat Ied, lalu sehabis itu mereka semua pergi ke kampung halaman masing-masing dan besoknya sudah kembali lagi.
Kebetulan pada hari kedua itu, ayah Alif sedang ada keperluan di desa, di tempat Mbah Uti-nya Alif. Saya dan Alif tetap di rumah untuk menyaksikan meriahnya penyembelihan hewan kurban. Lebih tepatnya, Alif yang menyaksikan. Saya tidur saja karena sedang nyeri bulanan.
Sekitar menjelang Azan Zuhur, daging kurban dibagikan. Dua ekor sapi disembelih untuk hanya sekitar tiga puluhan keluarga di perumahan kecil itu. Kontan saya dapat banyak sekali daging. Jauh lebih banyak dan lebih bagus dari yang selama ini pernah saya dapatkan di tempat lain. Daging-dagingnya minim lemak, potongan besar, jumlahnya juga banyak. Masih ada juga tulang kaki sapi yang berharga, yang sudah dipotong agak kecil. Juga sedikit rusuk-rusuk dan iga yang bergelambir daging.
Saya bahagia menerima semua itu, tapi juga bingung. Suami tidak suka daging. Alif mau, tapi sedikit, itu pun jarang saja. Saya sendiri biasanya doyan, tapi entah sejak kapan saya mulai mual dengan daging-dagingan. Maka setelah berdiskusi dengan Suami via WA, diputuskan daging itu untuk diberikan saja ke tetangga depan rumah. Tidak semuanya, hanya menyisakan sedikit, sekitar setengah kilo untuk saya olah sendiri dan dimakan bersama Alif. Itu pun kami menghabiskannya dengan susah payah.
Seminggu kemudian, saat berkunjung ke Mbah Uti-nya Alif di desa, daging yang sudah tak ada itu saya sesumbar-sesumbarkan kepada mertua.
"Buk, lebaran kemarin apa dapat daging banyak seperti tahun-tahun yang dulu?" tanya saya, memancing kerusuhan.
Mendengar pertanyaan saya, Ibu langsung antusias dan menjawab dengan ekspresif.
"Oalah, Nduk, di sini cuma dapat tidak seberapa. Beda dengan yang dulu-dulu. Tidak tahu kenapa. Tapi ya sudah disyukuri saja," jelas Beliau dalam Bahasa Jawa. Diplomatis dan agak misterius.
Saya manggut-manggut. Diam menunggu ada yang menyalakan api petasan.
"Lheee, lha di sana dapat seberapa?" Ibu mulai kepo.
Saya tersenyum semringah. Pertanyaan yang ditunggu keluar juga.
"Lhooooo, lain, Buk, di sana. Sapinya saja dua yang disembelih. Lha orang perumahan cuma paling tiga puluh keluarga. Ya semua dapat banyak daging," jelas saya yang baru mulai di sesi latar belakang.
Wajah Ibu langsung serius. Beliau menyimak saya seperti tak sabar mendengar lanjutan cerita.
"Dapat seberapa, Nduk? Dimasak apa?"
"Dapat satu keresek merah besar, Buk. Ngangkatnya saja susah. Wong sendirian. Mas kan ada di sini. Berat sekali pokoknya, Buk. Ada paling empat kiloan."
Tidak lupa saya ngomong beratnya sambil reka ulang. Memeragakan orang kebanyakan rejeki tapi harus agak kelihatan rendah hati itu susah juga. Gaya bercerita saya sudah begitu profesionalnya sampai-sampai seolah saking beratnya, saya seperti terancam ketiban daging.
Terlihat raut wajah Ibu berubah-ubah. Antara ikut senang tapi juga kasihan menantunya mau ketiban daging.
"Lha iya. Ngapain itu Akim kok ke sini segala. Harusnya kan di sana saja. Nanti kalau sudah selesai baru ke sini." Ibu mulai emosi.
"Ya gimana, Buk. Itu kan ada urusan kerjaan. Kulo (saya) ndak ngerti gitu-gitu itu, Buk. Ndak tahu apa-apa. Yang penting sudah tak doakan biar lancar saja." Saya berusaha menenangkan sambil sekalian lepas tangan. Ha-ha.
"Terus dagingnya masih seberapa? Lumayan buat makan biar tidak usah belanja."
Ibu mertua saya memang selalu peduli. Selalu memikirkan cucu dan menantunya dikasih makan apa tidak oleh anaknya.
"Sudah ndak ada. Habis. Hari itu juga tak kasihkan ke tetangga depan rumah. Cuma tak sisakan sedikit, paling setengah kilo, karena Alif bilang katanya mau dimasakkan rawon. Lha, kok, Buk, sudah tak masakkan, ternyata cuma mau kuahnya thok."
Sampai di sini, Ibu terlihat sudah berasap. Entah emosi karena anaknya, saya, atau cucunya. Yang terakhir itu tidak mungkin, sih.
"Sebanyak itu dikasihkan orang?" Suara Ibu mulai terpekik-pekik.
Entahlah ada tidak orang lain di luaran sana yang ngobrol dengan mertua sampai ada pekikannya begini. Yang ibu mertuanya memekin tapi menantunya mengakak.
"Ya iya. Sebanyak itu siapa yang mau makan? Mas aja seumur hidup ndak pernah mau makan daging. Alif mau tapi cuma nyicip. Masa kulo (saya) harus menghabiskan sebanyak itu. Ya darah tinggi. Lagian, Buk, Ndak tahu mulai kapan, kulo sudah mulai ndak doyan daging. Mual rasanya."
Baiklah, Ibu terlihat membara.
"Kulo sudah telpon Mas, Buk. Katanya ya sudah kasihkan rumah depan saja. Nggeh kulo nurut."
Makin membaralah Ibu Mertua.
"Lha ngapain dikasihkan tetangga. Dibawa kesini gitu kan enak. Di sini juga mau. Orang-orang di sana sudah dapat banyak saja kok."
"Ndak tahu. Sama Mas disuruh begitu. Sudah tak tawarin buat di bawa ke sini, katanya tidak usah. Ibu sudah dapat banyak. Gitu katanya."
Sejujurnya saya mau tertawa ngakak, tapi enggak enak. Tapi saya tahu juga, anak bungsu Ibu itu tidak akan dimarahi cuma gara-gara daging.
"Lagian, Buk, Mas mungkin ndak mau disuruh bawa-bawa daging ke sini. Dekat daging saja biasanya mual. Iya, kan?"
"Eh, iya, ya, Nduk. Anak itu memang ndak suka daging dari dulu. Ealah, ya sudah. Rapopo. Besok-besok pasti diganti rezekinya."
Saya tersenyum. Masih dengan senyuman juragan daging yang kebanyakan bersedekah. Didoakan pula.
Sejak awal lamaran dulu, saya sadar betul bahwa mertua saya humoris. Meski humornya sering dark, tapi selalu out of the box. Saya sering menggoda Beliau seperti ini cuma buat menambah-nambah koleksi jokes dan belajar humor Beliau yang legend.
Benar saja. Belum ada semenit kami diam setelah obrolan panas tadi, Ibu sudah keluar legend-nya.
Sambil tertawa, Ibu membuat skenario kejahatan terencana terhadap mertuanya sendiri.
"Nduk, sana sama Alif sambang ke tempat buyutnya Alif. Biasanya nanya-nanya terus, dikira ndak tak bolehin ke sana. Kasih tahu mbahmu itu, kalau baru dapat daging banyak. Bilang saja dapat lima kilo tapi sudah dikasihkan orang semua. Ha-ha-ha. Nanti lak orang tua itu marah-marah, ngomel-ngomel. Tenang saja, nanti tak marahi balik. Cicitnya datang kok dimarahi, nanti kalau ndak dijenguk lagi gimana. Gitu, ya, Nduk."
Siap, Kapiten!
😆
Lamongan, 6 Agustus 2025.
Komentar
Posting Komentar