Keutamaan Berbagi Kebahagiaan


Saya ingat betul bahwa dalam Islam ada suatu anjuran untuk Tahadduts Binni'mah, mengabarkan kebahagiaan, rezeki, nikmat dari Allah. Karena itulah, pagi tadi, saya sengaja menghubungi Mbah Kakung Alif di Probolinggo.

Namanya saja menelepon orang tua, sudah adabnya untuk bertanya kabarnya lebih dahulu sebelum menyampaikan maksud. Demikian saya diajarkan oleh orang tua-tua dulu.

Maka dari itu, sebagai anak yang berilmu dan beradab, setelah memberi salam, hal yang saya tanyakan pertama adalah kabar.

"Ayah sedang di mana sekarang?" tanya saya dengan nada stabil, enggak fals melengking keseleo seperti biasanya.

"Di pabrik. Ayah sudah berangkat kerja ini. Ada apa, Nduk?" Di sana menjawab cepat-cepat.

"Oh, kerja. Ngapain Ayah kok masih aja berangkat kerja. Butuh uang tah? Zafar aja itu lho, suruh ngamen. Sudah SMP harusnya sudah bisa cari uang. Alif aja sudah dari lama pengen sekali ngamen di alun-alun." Saya berusaha kepo sekaligus memberi masukan, biar terlihat perhatian sekali kepada orang tua.

"Oo... mulutmu itu. Ya iyalah! Kalau enggak, mau makan apa?" Mulai emosi. "Telpon Ibu saja di rumah, ya. Ayah mau kerja dulu."

"Lhooooo sek, sek, sek! Bentaarr! Dengarkan dulu," cegah saya. Pokoknya bapak-bapak menolak tua itu harus dengar kabar bahagia ini dulu. Biar makin semangat.

"Ada apa, Nduk?" Suaranya mulai penasaran.

Saya tarik napas dulu. Tenangkan diri dulu.

"Jadi gini, Yah. Kulo (saya) mau ngasih kabar bahagia. Alhamdulillah, seminggu yang lalu, meski hidup masih merintis, rumah masih ngontrak, alhamdulillah, Mas Akim beli tanah waktu pulang ke Dempel."

"Alhamdulillaaaaahhhhh!" seru Beliau di sana. Terdengar senang sekali. Bersyukur tak terhingga.

"Enggeh, Yah. Alhamdulillah. Tanah punya tetangga di sana. Jadi, ya, dapat harga lebih murah dari pada orang-orang umumnya. Namanya saja rezeki, Yah. Beli cuma sedikit, disyukuri saja meski cuma lima ribu tapi tanahnya subur, kok, Yah." Saya berusaha merendah.

"Iya wes. Tidak apa-apa. Berapa, Nduk?"

"Apanya?"

"Harganya."

"Lima ribu."

"Lima ribu?"

"Enggeh. Lima ribu dapat kurang lebih lima kilo."

"Hah?"

"Iya, lima kilo, Yah."

"Tanah di mana?"

"Tanahnya?"

"Iya."

"Sekarang sudah dibawa ke sini sama Mas. Diwadahi karung. Kurang lebih isinya empat sampai lima kilo-lah. Insyaallah subur, Yah. Wong isinya itu ada pupuknya, sekam bakar, cocopiet."

Sampai sini saya sudah sulit menahan diri.

"Ooooooo, gundulmu!!!" Mbah Kakung emosi tapi ngakak.

Memang kebahagiaan itu bisa membuat orang jadi emosional.

"Lihat, ya! Lihat! Tak balas nanti," ancamnya di sela-sela tawa ngakak. Mana ngakaknya penuh dendam.

Bapak-bapak tukang prank itu tak terima sepagi ini dikadalin istrinya menantu.

"Lha iya, Yah. Bener, kan? Bayangkan, dari kecil sampai sekarang, belum pernah sekalipun punya tanah sendiri. Akhirnya sekarang sudah bisa beli. Tuh, lima kilo di belakang rumah. Lumayan!" Kali ini saya menjelaskan sampai ngik-ngik.

Sebelum telpon ditutup, mertuanya Suami itu masih aja enggak terima.

"Tunggu pembalasanku, ya! Tunggu! Awas!"

😆

Lamongan, 7 Agustus 2025.

Komentar

Postingan Populer