Kelebihan Energi
Sudah sebulan terakhir saya enggak lagi nyuruh-nyuruh Alif tidur siang. Dibilang kapok, iya. Dibilang bosan, muak, pensiun, juga tidak salah. Tapi yang sebenarnya terjadi adalah saya mulai menyadari bahwa Alif sepertinya bukan anak biasa, juga bukan anak ajaib, melainkan anak kelebihan energi, yang tidak bisa tidur sebelum baterainya habis.
Maka dari itu, berhubung Alif sudah cukup usia, saya sebisa mungkin mengarahkan kelebihan energinya ke arah yang lebih baik, yakni cuci piring. Apa lagi dia sudah merasa punya SIM P (Surat Izin Mencuci Piring) sejak kali pertama dia mencuci piring diam-diam. Sebenarnya enggak diam, sih, berisik. Memang saya kebetulan sedang tidur siang.
Padahal, nyucinya sekali, banjirnya bikin ngeri. Nyucinya sekali, habis sunlight sepertiga sachet yang edisi dua ribuan. Nyucinya sekali, yang basah rata dari dinding, meja, lantai, sampai bajunya sendiri. Alif cuci piring berakibat saya cuci rumah beserta penghuninya.
Nah, di rumah yang sekarang, tempat cuci piringnya ada di belakang, bersebelahan dengan lahan kecil tempat saya berkebun. Di sana dia bebas mau banjir-banjiran, simulasi hujan lokal, hujan azab Indosiar, berenang, bebas. Jadi, saya biarkan anak yang baru kelas dua itu mencuci piring sekalian dirinya sendiri dan tanaman di sekitar.
Betapa malangnya, siang-siang, sudah pukul satu, baru pulang sekolah, kepanasan, kelelahan, baru ganti baju, dan kadang malah belum sempat melepas lelah, anak saya satu-satunya itu sudah nyuci piring di belakang. Kadang sehabis cuci piring dia masih juga beresin kamar, nyapu rumah, merapikan rumah, mencabut rumput di halaman depan, menyiram halaman depan, ngobrol sama tukang di sebelah. Ini kalau ketahuan mertua, saya bisa dipecat.
Tapi untunglah, ada anak mertua yang berpihak kepada saya dan mau melihat dunia dari sudut pandang istrinya.
"Itu... Alif cuci piring di belakang." Dia menyampaikan kalimat berita.
"Mas yang nyuruh?"
"Tidak."
"Oh."
"Itu, tidak apa-apa Alif cuci piring sendiri?"
"Gak pa-pa. Biarkan dia bersenang-senang menghabiskan sisa tenaga. Lagian, disuruh tidur juga malah nanti bertengkar sama aku. Aku aja yang tidur sekarang."
Suami diam. Diamnya saya anggap setuju. Risiko dipikir belakangan. Yang penting tidur dulu.
Risikonya juga palingan cuma saya sudah enggak bisa lagi ngaku-ngaku jadi pembantu. Misalnya seperti....
"Ibu ini, dari pagi sampai malam, beresin semuanya, nyuci, ngepel, masak, nyetrika. Bahkan kamu mau tidur aja Ibu yang menggebasi kasur, matikan lampu, nyalakan kipas angin, sampai menyiapkan minum. Sudah kayak pembantu, tahu!"
Punch line pembantu sudah enggak relevan lagi ketika Alif punya track record cuci piring dan beberes rumah.
Agak sedih sebenarnya, mengingat itu jurus andalan, jurus pamungkas, jurus paling ngerendahin diri naikin mutu.
Sudah enggak bisa lagi....
Akan enggak enak kalau sampai saya ngaku-ngaku pembantu lagi sedangkan Alif....
juga sama-sama pembantu.
Lamongan, 23 Agustus 2025.
Komentar
Posting Komentar