Cucian Istimewa



Setelah Alif berangkat sekolah, setelah puas melepas lelah sebab sudah mode aktif sejak subuh, saya makan lagi.

"Pagi ini aku mau nyuci." Demikian sebelumnya saya berpamitan kepada Suami. 

Pamit setengah pamer biar dia tahu track record kegiatan saya pagi ini. Saya ini orang sibuk! Aktif! Tidak punya waktu luang untuk scroll Facebook dan menuh-menuhin keranjang Shopee.

Tapi bukannya ke belakang, saya malah menghadap ke teh dan gorengan, sajen pagi ini. Lalu ketahuan.

"Nggak nanti aja, kalau sudah selesai nyuci?" Laki-laki yang saya pamiti tadi tiba-tiba sudah di depan gorengan juga.

"Oh tidak bisa. Aku ini mau nyuci seragam putihnya Alif. Butuh tenaga ekstra dan kesiapan mental. Sudah dua hari aku membangun motivasi untuk melakukan ini."

Suami diam. Mungkin dia sadar betapa besarnya perjuangan yang akan saya lakukan: mengubah jelmaan keset kembali menjadi kemeja putih suci nan terhormat.

Tidak lama kemudian, saat saya sedang memilah-milah pakaian kotor, Suami datang lagi sambil membawa celana pendek andalannya yang sudah saya minta berkali-kali-kali untuk dicuci.

Ada orang yang ngotot banget mau mencuci pakaian yang bukan pakaiannya sendiri? 

Ada banget!

Saya orangnya!

Sayalah wanita yang nyaris rebutan celana pendek dengan suaminya. Kadang juga rebutan baju jersey sepakbola dengan anakannya. Semua kekeuh supaya barang-barang itu jangan dicuci karena konon masih mau dipakai lagi.

Timbang celana pendek sama jersey aja sudah kayak pusaka keramat.

Jadi, ketika celana pendek itu diberikan dengan sukarela, tanpa diminta, tanpa paksaan, rebutan, pertempuran, saya agak terkejut. Apakah ini cuma mimpi di pagi bolong?

Enggak pernah saya sebahagia itu mencuci baju orang.

Meski hari ini saya sedang punya proyek pemutihan seragam kuli, celana pendek itu pasti saya terima juga sebelum yang punya berubah pikiran.

"Ya wes, ya wes, tak kasihkan wes," ucapnya dengan nada nelangsa saat memberikan celana pendek kebangsaan bapak-bapak itu.

Saya menerimanya dengan wajah senyinyir mungkin.

"Ndak pa-pa, kali ini aku tak mengalah saja," tambahnya penuh kebijaksanaan.

"Biar istri senang, ndak pa-pa, aku aja yang ngalah," tambahnya lagi biar maksimal.

Di antara tumpukan cucian, sambil memegang seragam cosplay gembel punya Alif, saya meradang.

"Apanya yang ngalah-ngalah? Aku yang nyuci terus situ yang bijaksana, gitu? Kan aku yang repot, masa situ yang jadi pahlawan? Kalau nggak mau, nggak usah... nggak pa-pa!" Saya merepet tapi tangan sigap menerima.

Sedangkan Suami, berdiri di sana dengan dengan wajah yang jelas-jelas senang sekali tapi pura-pura kalah dan tertekan.

😏

Lamongan, 8 Agustus 2025.

Komentar

Postingan Populer