Wajah Impian
Ada alasan khusus kenapa saya sulit membuka kesadaran Alif tentang betapa miripnya dia dengan saya. Alasan yang saya sendiri enggan mengakuinya, bahwa ternyata, wajah saya bukan wajah impian Alif.
Wajah impian Alif, tidak lain tidak bukan, adalah ayahnya, yang konon kata tim suksesnya yang cuma satu itu, lebih pintar dari pada presiden.
Siang itu, saya ingat sekali, Alif menarik-narik ayahnya untuk menyejajarkan muka. Setelah meminta ayahnya tersenyum, dia pun tersenyum selebar yang diijinkan mulutnya, lalu bertanya kepada saya.
"Ibu, lihat! Lihat! Mirip, kan?"
Habis bertanya dia tidak lupa senyum lagi sambil mata dilebarkan. Di sebelahnya, ayahnya berpose sama. Tidak tampak terpaksa sama sekali. Ekspresinya adalah definisi ngerendahin diri naikin mutu.
"Eee.... Eng... Enggakkk, sihhh," jawab saya enggak enak.
Saya yang tidak diakui, saya juga yang sungkan.
Tidak menyerah, Alif masih berusaha memirip-miripkan wajah dengan bapak-bapak di sebelahnya.
"Ayolah, Ibu, coba perhatikan sekali lagi."
Saya lihat lagi, enggak mirip.
Saya lihat agak lama lagi, masih enggak mirip.
Lagi-lagi saya enggak enak sama yang udah pose sampai kering.
Akhirnya, saya iyain.
Setidaknya samalah lubang hidungnya.
😌
Lamongan, 31 Juli 2025.
*suka dengan catatan harian seperti ini? Yuk miliki buku Alif Family Diary #2 atau dapatkan e-booknya dengan harga terjangkau. Order via WA di 082328206358 😊
Komentar
Posting Komentar