Pentol Kode



Hari ini Alif libur sekolah. Sekitar pukul sembilan, saat kami bergelimpangan bersama di kamar, tiba-tiba terdengar suara tetot-tetot.

"Wahhh! Apa itu, ya?" Saya mengerling antusias.

"Ahaa!" Ekspresif banget memang anak saya. "Alif tahu itu pasti orang jual mainan!" serunya lalu lari ke depan.

Lekas saya iseng menyahut, "Eh, jangan-jangan itu orang jualan sayur?"

Seperti biasa, ayah Alif diam. Dia sedang bekerja melalui ponselnya. Jadi, sejak pagi memang saya dan Alif ricuh sendiri, tidak begitu berguna.

Sebentar kemudian, Alif masuk dengan lesu. "Cuma penjual pentol," katanya kecewa.

Giliran saya yang bahagia.

"Apaaaa? Pentollll? Wuaaaaahhh!" Saya memancarkan sinyal kode-kodean yang seharusnya orang itu peka.

Ternyata beneran peka. Dengan semangat, anak mertua itu langsung berseru padahal konon sedang kerja.

"Wahhh, itu, kan, kesukaan Ibu!" Dia mengkode entah siapa. 

Saya yang bete cuma bisa mengkode dia lebih lanjut. Perang kode.

"Iya, ya. Kok, tahu, sih?" 

"Ahaa!" Lagi-lagi Alif berekspresi seperti pembawa acara ensiklopedia antah berantah.

Tapi dia berjalan keluar dari kamar sambil merapal, "Pentol toll tolll! Pentol toll tollll!"

Saya yang lelah berkode hanya bisa diam memikirkan rencana kapan mau bikin pentol sendiri sepanci.

Belum kelar saya menghalu, tahu-tahu Alif datang, sambil memanggil saya penuh semangat.

"Ibu!!! Ini buat Ibu! Alif beli enam, lho! Harganya lima ratusan. Murah!"

Sampai sekarang, saya masih syok. 

Sambil terharu, saya memakan pentol seharga tiga ribu yang dibumbui seperti yang selalu saya suka setiap kali beli pentol.

Terima kasih, ya, Alif. Ibu janji seminggu ini enggak akan nanya cantik siapa-cantik siapa lagi.

🥰

Lamongan, 30 Juli 2025.

*suka dengan catatan harian seperti ini? Yuk miliki buku Alif Family Diary #2 atau dapatkan e-booknya dengan harga terjangkau. Order via WA di 082328206358.

Komentar

Postingan Populer