Naik Kelas 2 (MPLS Hari Pertama)


Setelah libur panjang yang menurut saya kelamaan, akhirnya sekolah masuk juga. Membayangkan kembali libur sekolah tiga minggu itu berarti dua puluh empat jam kali dua puluh satu hari bersama Alif. Itu kalau saya miara ayam, udah netas setidaknya seribu, kalau miara seribu. Tapi nyatanya yang beranak pinak adalah cucian dan setrikaan. 

Sebenarnya, saya dilema menghadapi semua ini. Meski sudah tidak berskolah lagi, kayaknya sindrom bosan masih berlaku juga.

Saya: Saat anak masuk sekolah tiap hari, pengennya libur aja  biar pagi enggak ricuh dan panik terus. Saat sekolah libur lama, pengennya masuk sekolah aja karena ternyata makin lama anak di rumah, ricuhnya malah sepanjang hari. Hari libur sama dengan hari lembur.

Alif: Sama. Saat tiap hari masuk sekolah, pengennya libur aja biar bisa main sepanjang hari. Tapi saat sekolah libur lama, pengennya masuk sekolah biar dapat passive income a.k.a  uang saku. Maka dari itu, maunya Alif adalah tiap hari masuk sekolah tapi tiap hari pulang pagi terus. Bapak Ibu Guru sekalian disarankan untuk rapat terus.

Tinggal saya yang belum ketemu enaknya gimana. Intinya, kami sama, banyak nyinyirnya. Haha.

Demi menyambut naik kelas dua ini saya ternyata riweuh juga, sebagaimana emak-emak di seluruh Indonesia. Banyak hal perlu diperbarui. Dari buku sampai sepatu yang sudah dipakai setidaknya dua tahun. Alhamdulilllah ada saja rezekinya di tengah krisis keuangan negri ini.

Jadilah hari pertama masuk sekolah pekan lalu, Alif masuk sekolah dengan membawa buku tulis baru yang semuanya bergambar Doraemon (ya, ini ambisi childhood saya yang enggak kesampaian, tapi versi karakter kartun pilihan Alif) dan sepatu yang ternyata desainnya mirip sama yang sebelumnya. Gimana lagi, Alif maunya yang itu hanya karena ada magnetnya, padahal saya punya banyak magnet kulkas nganggur.

Tapi sebagaimana pepatah, di mana ada kesempatan, di situ ada kesempitan. Di antara semua kebahagiaan itu, ada saja hal kecil yang bikin ricuh di antara kami berdua. Iya, berdua, ayah Alif tidak terlibat. Ibaratnya, dia kameramen yang pasti selalu selamat.

“Alif, sudah tahu siapa wali kelasnya?” tanya saya sepulang Alif dari sekolah. Ini basa-basi aja karena sebenarnya sudah dibahas di grup WA walmur.

“Tahu.”

“Siapa namanya, coba?”

“Bu Indah.”

Saya diam sejenak. Perasaan sebelumnya saya dikasih tahu di WA katanya namanya Bu Winda.

“Bukannya Bu Winda?” Saya mulai meragukan diri sendiri beserta empat belas anggota grup WA paguyuban kelas.

“Bukan, Ibu. Namanya Bu Indah. Tadi lho kenalan di kelas.”

Terdengar valid sekali. Alif juga bilang dia tidak pernah ketemu guru yang namanya Bu Winda. Selain itu, beberapa kali juga Alif pernah menyebut nama Bu Indah. Tapi di WA, Bu Guru memperkenalkan namanya sendiri sebagai Winda. Kan aneh.

Saya berpikir lagi agak lama, menggali memori. Lalu barulah saya ingat percakapan bersama ketua paguyuban di pagi hari saat saya ikut mengantar Alif ke sekolah.

Jelas sekali, ketua paguyuban mengatakan sejelas-jelasnya bahwa nama wali kelasnya adalah Bu Winda, dan tidak ada satu pun guru yang bernama Bu Indah. Ketua paguyuban sudah pasti tidak sesat. 

Setelah mengecek kembali grup WA dan menunjukkan foto Bu Winda, saya kembali mengklarifikasi.

“Alif, apa ini wali kelasnya Alif?” 

“Nah, iya, itu Bu Indah.”

Sekate-kate ini ketua sekte.

“Ini tuh Bu Winda, tahu! Ibu punya lho nomor WA-nya.”

“Iyatah, Ibu? Yakin?”

“Iyalah! Alif pasti salah dengar itu!” Saya ngegas tak terima. Bisa-bisanya dia ganti nama orang seenaknya.

Belum puas, saya lanjutkan mengomeli anak yang sebentar lagi berusia delapan tahun itu.

“Ingat, ya, namanya Bu Winda! Jangan ganti-ganti nama orang sembarangan. Gak ikut selametan juga! Emang Alif mau disuruh selametan?”

Alif ngakak. Sebagai pejuang berkatan, dia akrab sekali dengan selametan.

“Tapi, Ibu, itu, kan tulisannya aja.” Dia berkilah.

“Hah? Maksudnya?” Saya terkejut tak mengerti. Tak percaya. 

“Seperti Y-o-u itu lho, Ibu, kan dibacanya ‘yu’. Kayak gitu.”

😭

Lamongan, 22 Juli 2025.

*suka dengan catatan harian seperti ini?  Yuk miliki buku Alif Family Diary #2 atau dapatkan e-booknya dengan harga terjangkau. Order via WA di 082328206358.

Komentar

Postingan Populer