Calendula



Salah satu kesibukan saya ketika merasa agak senggang sedikit adalah buka shopee, lalu scroll toko-toko benih bunga. Sekarang, hampir seperempat isi keranjang shopee saya bunga semua. 

Berhubung hari ini Alif nganggur, yang dia lakukan setelah bosan dengan mainannya adalah mengkritisi keranjang shopee ibunya.

"Buat apa, sih, Ibu? Kok mau beli bungaaaaaa terus. Apa gunanya? Kenapa Ndak beli yang berguna seperti buah-buahan tah gitu?" omelnya, menyuarakan isi hati ayahnya.

"Ya buat dilihat! Kan senang, lihat bunga," tegas saya yang minim pertahanan.

"Alif mau belikan ini, Ndak? Kan, katanya Alif banyak duitnya?" 

Yah, namanya juga usaha. Kalau minta lagi ke ayahnya, nanti saya disuruh mempertanggungjawabkan yang sudah ada di belakang itu dulu.

"Berapaan?" tanya taipan muda penjual segala rupa.

"Murah!" Saya menirukan gayanya. "cuma empat ribu tujuh ratus!"

"Huh, ndak mau. Cuma buat dilihat aja kok, tidak ada gunanya." 

Memang kalau mental seller begini, pertimbangannya adalah gunanya, bukan cute-nya.

Sementara mental shopping saya masih loading membuat proposal fungsi dan manfaat barang biar terlihat lebih berguna.

Sampai akhirnya saya menemukan Bunga Calendula di keranjang.

"Ini, bagus, kan? Namanya Bunga Calendula. Bisa dimakan, tahu? Bisa dibuat minuman seperti teh juga," jelas saya sambil menahan diri agar tidak menyebutkan fungsi bunga yang bisa bikin kulit halus dan glowing. 

Saya belum siap rebutan makan kembang sama anak sendiri.

Nanti bukannya glowing, malah kayak kambing.

"Iya, tah, Ibu? Beneran bisa dimakan? Bisa dibikin minuman kayak Bunga Telang itu?" Alif heboh.

"I-iya," jawab saya ragu. Sebab enggak yakin bunga itu akan seluntur Bunga Telang kalau direbus.

"Tapi nanti Alif dapat juga, ndak?"

"Iya, dong. Nanti Alif bisa ikut menanam juga. Ada bunga buat Alif sendiri. Ini malah, ya, kalau sudah berbunga, bisa ada bijinya buat ditanam lagi. Bisa dijual, lho!" Kalimat terakhir saya ucapkan sambil berbisik. Kuatir ayahnya dengar.

"Ya sudah, Ibu! Ayooo, beli! Nanti Alif mau jual!" teriaknya, membuat gerilya saya sia-sia.

Tapi semua itu, semua usaha, rayuan, propaganda ala calo toko bunga itu, gagal gara-gara abang tukang pentol lewat.

Enggak jadi order bunga, saya diorderkan pentol yang harganya masih disebutkan sebagai kalimat terakhir sebelum tidur barusan.

"Pentolnya cuma lima ratus, lho, Ibu. Murah sekali, kan? Berarti besok-besok bisa beli cuma lima ratus saja!" pesannya lalu otw lelap.

😑

Lamongan, 30 Juli 2025.

Pict by Pinterest.

*suka dengan catatan harian seperti ini? Yuk miliki buku Alif Family Diary #2 atau dapatkan e-booknya dengan harga terjangkau. Order via WA di 082328206358.

Komentar

Postingan Populer