Acara di Belakang Rumah
Ternyata punya sedikit lahan menanam di belakang rumah itu sangat membahagiakan. Gara-gara ini, saya sedikit-sedikit ke belakang rumah. Lebih dari sepuluh kali sehari. Saya bahkan sudah tidak menghitung sudah berapa lama saya menanam benih-benih bunga ini. Mungkin dua minggu, mungkin tiga minggu. Juga ada yang baru saya tanam semingguan yang lalu dalam wadah mika plastik bekas biskuit, yang sepertiganya sudah tumbuh subur.
Setiap ada yang berkecambah, saya berbahagia. Ada yang keluar daunnya, bahagia. Daunnya nambah, bahagia. Serba bahagia. Sebaliknya, kalau ada jenis bunga yang enggak tumbuh juga padahal sudah berminggu-minggu ditanam, rasanya jadi lumayan kecewa. Saya tungguin pagi, siang, sore, berharap ada yang mendadak tumbuh meski makin lama makin kecil harapan.
Di antara semua yang saya tanam, yang paling cepat tumbuh adalah Zinnia lalu mossrose atau krokot. Tiga hari sudah sprout. Dua ini berbalapan, melimpah pula. Hanya saja, sekarang Zinnia-nya udah paling tinggi di antara yang lain, sementara krokot masih segitu-gitu aja. Gapapa, yang penting hidup.
Yang tumbuh subur berikutnya adalah Marigold mix (sebagaimana tertera di kemasannya). Sepertinya kalau berbunga nanti bunganya berwarna kuning. Hampir semua benihnya berhasil. Sisanya tinggal Cosmos dan Marigold French yang entah kapan tumbuhnya. Cosmos mulai tumbuh tujuh benih beberapa hari terakhir. Sedangkan Marigold French hanya tumbuh satu sekitar tiga hari yang lalu.
Sementara itu, masih di belahan dunia yang sama, ada Suami yang menanam benih tomat dan terong sekenanya. Ditabur begitu saja dalam wadah keresek sisa sebab semua wadah yang agak bagus saya kuasai. Hasilnya? Tumbuh semua, dong. Dia bahkan dengan entengnya menyetek beberapa tanaman melati, sirih gading, menanam ulang sisa potongan bayam yang ada akarnya, memindahkan tanaman kemangi liar di dekat rumah, dan juga menanam banyak bibit lainnya hasil dibawakan Mbah Uti-nya Alif. Semua tumbuh subur tanpa perawatan expert, tanpa wadah yang diusahakan, tanpa pupuk, tanpa dilihat lima belas kali sehari.
Dan entah bagaimana, padahal saya enggak lagi nge-add banyak orang di Facebook, mendadak saja beranda saya isinya para gardener. FL lama yang biasanya suka nulis atau jualan, ternyata suka berkebun juga. Atau saya aja yang baru notice. Entahlah. Tapi yang jelas saya jadi lebih bersemangat berkebun.
Soal berkebun ini memang hal baru bagi saya. Bayangkan, saya yang selama ini bikin mati tanaman Suami, tanaman titipan, tanaman yang enggak saya apa-apain, ternyata bisa juga menumbuhkan tanaman bahkan dari biji. Saya yang bahkan rumput aja gak sudi saya tanam, sekarang bisa menumbuhkan banyak bunga.
Biji-biji bunga hasil beli online ini bahkan sudah saya perhitungkan matang-matang secara matematis. Jadi, kalau misalkan saya beli lima macam benih bunga masing-masing dua puluh biji, maka itu berarti saya sudah memperhitungkan setiap bijinya nanti kalau sudah tumbuh besar akan saya taruh di mana. Sama sekali enggak kepikiran kalau biji itu bisa saja tidak tumbuh, bisa saja dimakan hewan lain, atau bahkan membusuk. Apa itu risiko? Apa itu sadar diri? Maka di sinilah saya sekarang yang lagi-lagi baru selesai menengok tanaman yang tak kunjung tumbuh dengan penuh ekspektasi.
Dikit-dikit, siram. Dikit-dikit, tatanan benih digeser. Dikit-dikit, tanah digemburkan. Malah jadi gak tumbuh-tumbuh. Mungkin biji-biji itu sekarang sedang pusing dan mempertimbangkan kembali untuk tumbuh atau tidak.
Semua ini membuat saya sadar bahwa menanam membutuhkan kesabaran dan ketelatenan dalam takaran yang pas. Bukan yang banjir bandang begini. Kesadaran lainnya yang juga saya dapatkan adalah bahwa menanam membuat saya sekarang menjadi saingan berat Alif dalam memulung sampah.
Kalau kemarin-kemarin Alif suka memulung, sekarang dia rebutan memulung dengan ibunya. Setiap botol plastik, gelas plastik, wadah-wadah mika plastik entah bekas biskuit atau bekas wadah tahu sutra, jasuke, semua kami perebutkan. Tidak hanya itu, saya juga memulung sampah dapur berupa kulit-kulit bawang dan kulit telur. Saya hampir saja membuat MOL (pupuk organik) kalau tidak dicegah oleh ayah Alif. Belum saatnya, katanya.
Pokoknya sekarang ayah Alif tidak hanya menertibkan ambisi memulung anaknya, tapi juga istrinya. Meleng dikit, saya bisa bikin acara lain lagi di belakang. Hanya dia yang punya kesadaran bahwa lahan dan rumah kontrakan yang tak seberapa luas ini tidak harus menjadi TPA.
Karena itulah....
"Mas, bulan depan beli tanah, yuk!"
😅
Lamongan, 26 Juli 2025.
*suka dengan catatan harian seperti ini? Yuk miliki buku Alif Family Diary #2 atau dapatkan e-booknya dengan harga terjangkau. Order di WA 082328206358 😊
Komentar
Posting Komentar