Tilang



Pagi sebelum berangkat sekolah, saya sering menanyai Alif tentang barang-barangnya agar tidak ada yang ketinggalan. Harapannya tentu agar anak dapat belajar dengan tenang dan efisien di sekolah. 

Tapi ternyata misi Alif ke sekolah bukan hanya belajar. Atau malah bukan belajar. 

"Buku pelajarannya sudah ditata?" tanya saya di pagi yang cerah seminggu yang lalu. 

"Sudah."

"LKS? Dua?"

"Sudah."

"Buku tulis? Dua?"

"Sudah."

"Kotak pensil?" 

"Sudah."

"Uang saku?"

"Sudah."

"Air minum?"

"Sudah. Sudah semua pokoknya."

Setelah semua pertanyaan itu, semua jawaban itu, yang saya lakukan adalah.... 

memeriksa tasnya, tentu saja. 

Ternyata benar, semua buku beserta kotak pensil dan isinya, air minum, dan yang paling utama dari semuanya, uang saku, semua benar berada pada tempatnya. Tidak rapi, tapi ada. Lengkap. Lebih malah. 

Lebihnya tak lain adalah barang dagangan, peralatan perbakulan, dan mainan yang kalau kejual juga ya alhamdulillah. 

Ada botol Yakult, crayon, pensil warna, spidol, gunting, stik es krim yang sudah dikasih motif sendiri, karet, dan sekantung tutup botol. 

Okelah soal botol Yakult, peralatan mewarna, karet, dan stik es krim. Kelihatannya ada gunanya semua kalau dikombinasikan. Tapi tutup botol? 

"Alif, ini buat apa tutup botol?" Saya menilang anak sendiri. 

Yang ditilang tentu saja bertabiat sebagaimana umumnya orang kena tilang: malu-malu, keder, dan agak tidak rela. 

"Buat apa?" tanya saya lagi dengan nada lembut lelembut Gunung Ledang. 

"Hehe... buat... itu..., Ibu, buat... jualan," jawabnya setengah berbisik. 

Saya gagal seram. Mau marah tapi yang keluar malah ngakak. 

"Emang siapa mau beli tutup botol?" tanya saya sedikit terbata-bata sebab menahan tawa. 

"Ada, kok, Ibu!" Alif kekeuh. 

Saya makin tersembur-sembur tertawa. 

Bocil halu-lugu-absurd mana yang mau beli tutup botol?
Anak siapa yang telah di-brainwash Alif sehingga begitu malangnya? 

"Rasyid itu!" jelasnya tanpa diminta. "Alif jual cuma lima ratusan. Rasyid beli empat. Jadi, Alif dapat dua ribu!"

Tawa saya seketika terhenti. 

Sekantung tutup botol tadi saya masukkan lagi. 

Ya udah, berangkat sana, Nak. Semoga laris. 

😊

Lamongan, 3 Juni 2025.

*Catatan harian lainnya di https://bunga-firdausy.blogspot.com.

**beli buku Alif Family Diary #2 di Alif Official Store di Shopee https://s.shopee.co.id/2Vec3vIiwa

Komentar

Postingan Populer