Pekerjaan Sampingan



Saya tidak menyangka ternyata korban marketing Alif ada banyak. Rasyid si anak pembeli tutup botol kemarin, misalnya. Bukan sekali dua kali dia menjadi pelanggan Alif. Dia sudah di level pelanggan setia. Wakil ketua sekte. Di kelas pun dia wakil ketua kelas. Alif ketuanya. 

Selain membeli tutup botol, sebelumnya Rasyid juga sudah pernah membeli stik es krim polos, stik es krim bermotif, dan stik es krim yang sudah berbentuk pesawat sederhana. Bahkan kalau saya tidak salah ingat, Rasyid juga salah satu dari beberapa anak yang sudi membeli gambar-gambar kecil buatan Alif. 

Maka dari itu, saya selalu baik-baikin ibunya Rasyid setiap kali kami bertemu. Kalau enggak gitu ya saya diam. Diam yang agak mencekam gitu. 

Selain Rasyid, ada satu lagi pelanggan tetap Alif yang sentiasa membeli apa pun yang Alif buat. Hasil brainwash-nya kuat sekali. Meski sudah disuwuk Pak Wawan beberapa kali, dia masih saja rutin bersedia membeli apa saja yang Alif jual. Kadang malah nge-jajanin Alif di kantin sekolah. 

Azka, namanya. Dia anak yang paling sering ricuh bersama Alif. Partner in crime. Beda dengan Rasyid yang kalem dan anteng, Azka justru super power. Kadang Alif sudah berada di titik tidak sanggup menghadapi dia. Jadi gelud deh karena Alif sudah enggak mau main lagi. 

Tapi Azka selalu membeli dagangan Alif. Belinya langsung banyak. Kalau Rasyid beli stik es krim satu, Azka belinya tiga berkat iming-iming beli tiga diskon seribu. Harga per pcs-nya dibandrol dua ribu. Itu kalau saya sudah ketemu walinya, bawaannya pengen sungkem memohon ampun. 

Entah apa yang sudah Alif lakukan pada anak-anak itu. Mereka seperti mudah sekali menggelontorkan uang kepada ketua sekte. Bocil-bocil halu nan lugu itu tak berkutik menghadapi trik marketing S3 lulusan Harvard University yang Alif gunakan. Setidaknya itulah yang saya tahu sampai seminggu yang lalu. 

Hari itu, Senin pekan lalu, saya ke sekolah untuk rapat paguyuban bersama wali murid lainnya. Tidak banyak yang datang, hanya enam orang. Rapat berlangsung dengan aman dan terkendali. Sampai tiba-tiba ketua sekte itu masuk. 

Alif masuk bukannya mau menemui saya, melainkan ke ketua paguyuban. Dia menyetorkan segenggam uang entah uang apa, lalu keluar lagi. Sama sekali mengabaikan saya. Tidak lama, dia masuk lagi, menghadap saya yang duduk di kursinya. 

"Ibu, ini uang tolong simpankan," ucapnya takut-takut sambil mengulurkan dua lembar uang dua ribuan. 

"Ini uang apa? Uang sakunya Alif? Kenapa dititipin ke Ibu?"

"Bukan, Ibu. Itu Alif dikasih uang mas-mas kelas lima di luar."

"Hah? Kenapa dikasih?" saya curiga. Agak panik juga. 

"Alif dikasih, kok, Ibu. Alif ndak minta."

"Ya tapi kenapa dikasih? Mana anaknya? Mana? Biar Ibu tanyain."

"I-itu..., Ibu..., Alif dikasih uang karena tadi sudah mau ngantarkan uang ke Ibu yang di depan itu."

Saya langsung diam. Menahan diri sekuat-kuatnya untuk enggak ngakak di keramaian. Berat sekali untuk mempertahankan citra elegan sementara anak saya yang masih tujuh tahun sudah kerja sampingan. 

Ya Allah, hindarkanlah hamba dari siksa neraka dan amuk masa. 

🏃‍♀️

Lamongan, 3 Juni 2025.

*Catatan harian lainnya di https://bunga-firdausy.blogspot.com.

**beli buku Alif Family Diary #2 di Alif Official Store di Shopee https://s.shopee.co.id/2Vec3vIiwa

Komentar

Postingan Populer