Tawar-Menawar
Dua hari yang lalu, Alif galau. Dia dilema antara lanjut order lego di Shopee yang datangnya lama atau beli gantungan kunci Tsum-Tsum biru buatan ibunya.
"Memangnya, Alif mau beli ini? Buat apa? Kan, sama Ibu sudah dibikinkan yang Doraemon itu," tanya saya, heran.
Biasanya Alif enggak begitu tertarik sama flanel buatan saya yang bukan hasil request-an dia.
"Emmmm, sebentar, Ibu. Yang lego di Shopee itu masih lama, ndak, datangnya? Bisa dibatalkan?"
"Ya ndak bisa. Sudah diorder kok dibatalkan."
"Eh, tapi, yang Ibu buat itu harganya berapaan? Lima ribu?"
Mulai deh. Dia yang beli, dia yang ngasih harga.
"Mana ada lima ribu! Bikin sendiri sana!" Saya agak naik emosi.
"Kalau menurut Mas, berapa?" tanya saya ke Suami.
"Pertimbangannya sendiri, berapa?" Yang ditanya malah balik nanya.
"Kataku sih lima belas ribu!" sahut saya semena-mena sambil ngakak.
"Kan ada dakronnya, dan ini juga kan boneka 3D, ya, sepuluh ribu, deh. Gimana, Alif?" nego saya ke anak sendiri.
Kurang apa, saya sampai harus nego sambil menjelaskan kualitas barang beserta bahannya. Saya, seorang emak-emak anak satu, se-effort itu bernegosiasi dengan bocil tujuh tahun yang kalau jualan stik es krim sekeping kerempengnya dijual seharga dua ribu. Dapat dari mulung pula.
Tapi namanya juga usaha, ada aja rintangannya. Entah saya kurang jago nego atau memang penjelasan saya enggak masuk di otak bocil SD yang tahunya untung aja, saya kehilangan calon pelanggan pertama saya malam itu.
"Pokoknya kalau lima ribu, Alif mau. Kalau lebih, ya tidak jadi."
😑
Lamongan, 8 Mei 2025.
*gantungan kunci Tsum-Tsum dapat dipesan di https://s.shopee.co.id/AUhEdzpcCj
Komentar
Posting Komentar