Restart



Setiap pagi, saya berusaha sekali agar memulai hari dengan senyuman. Benar-benar berusaha. Tapi progres emosi selalu naik. Naik menuju kemurkaan. 

Kurang apa. Alif sudah bagus bisa bangun subuh. Kadang malah dia yang bangun duluan. Habis sholat juga masih sempat-sempatnya sepedaan, atau kalau kesadaran belum utuh, ya gegoleran di sofa. 

Sementara saya sudah nonsetop. Ngebut. Banyak sekali borongan kerjaan yang harus selesai sampai Alif berangkat. Beberapa kali juga saya bagi tugas dengan Suami, dengan Alif juga. 

Setiap pagi, nih, ya, baru setengah sadar habis sholat subuh, yang saya tanya pertama pasti: "Sudah ditata bukunya?" Meskipun malamnya jelas-jelas saya sudah meminta dan melihat Alif menata bukunya. Bahkan menyempatkan belajar bersama. 

Jawabannya pun terang-benderang. "Sudah," katanya. 

Habis mengurus dapur dan sarapan, saya dengan konsentrasi penuh, memandikan Alif. Hal yang akhir-akhir ini saya galakkan lagi setelah sebelumnya Alif sudah lama bisa dan terbiasa mandi sendiri. 

Penyebabnya tak lain tak bukan adalah durasi mandi yang tak jelas. Kadang satu menit. Kadang dua jam. Sering kering pula keluarnya. Jadi kayak mulai ada dekil-dekilnya. Saya curiga mandinya itu 90% main air, 1% nya mencipratkan air ke permukaan kulit. Seperti mensucikan najis mukhoffafah. Sisa persennya buang air. 

Itu pun habis mandi, saya tanyain lagi. "Beneran sudah menata buku?"

Jawabannya pun masih paten konsisten. "Sudah."

Habis ganti baju pun masih juga saya tanyai. "Beneran, sudah? Kotak pensilnya?"

Tak berubah, jawaban Alif tetap 'sudah'. 

Rencana mau saya tanyain sampai total tujuh kali. Supaya kalau misal ternyata dia oleng, saya sudah yakin bahwa saya sudah menanyainya sampai seperti orang pikun. Tapi itu tidak saya lakukan karena sepertinya berlebihan dan saya tidak sepikun itu. 

Setelah siap berangkat, sudah pakai kaus kaki, tinggal pakai sepatu, Alif mengambil tas dan terkejut melihat buku yang kami pelajari semalam masih tergeletak sembarangan di rak buku.

Mengaumlah saya yang menyesal kenapa tidak menanyainya seratus kali. Alif cepat-cepat menata ulang isi tas yang ternyata di dalamnya ada beberapa botol yakult, karet, potongan stereofoam, dan entah apa lagi di bagian kegelapan terdalamnya. Itu pun buku tulisnya masih juga ada yang tertinggal satu. Saya yang menemukan. 

Lalu buku tabungan. 

Lalu air minum. 

Lalu tahu-tahu sudah jam tujuh. 

Saya sudah di tahap merapal mantra. Dikit lagi kesurupan. Ayah Alif segera membawa anaknya berangkat sebelum rumah kami didatangi tetangga. 

Habis marah-marah begitu, saya hanya bisa menyesal. Harusnya saya lepas dia ke sekolah dengan bahagia. Maka saat pulang, saya menyambutnya dengan lebih lemah lembut dari biasanya. Saya peluk, saya mintai maaf. Alif pun meminta maaf balik kepada saya. 

Sorenya, ironi terjadi. 

Alif yang baru bangun tidur, langsung mengomel karena merasa bangun kesorean. Padahal baru saja ashar. Dia khawatir tidak bisa berlama-lama bersepeda sore dan bermain bersama anak-anak tetangga. 

Tapi dia gerak cepat. Dengan kecepatan yang mengagumkan, Alif mandi, ganti baju, sholat, dan langsung mengeluarkan sepedanya. Masih dengan mengomel karena merasa tidak dibangunkan di jam yang hanya dia sendiri yang tahu kapan maunya. Karena dibangunkan jam berapa pun, tetap salah. 

"Terlambat ini, Ibu. Alif terlambat!" ucapnya gusar. 

Kumat lagilah saya. 

"Terlambat ke mana? Ada yang marahin kalau terlambat? Siapa? Teman bermainmu ada kepala sekolahnya, tah? Ada satpamnya? Kalau telat, gak boleh masuk lapangan? Iya? Tadi pagi aja sekolah terlambat gak panik. Berkali-kali diingatkan menata buku juga ternyata belum. Sudah untung tak bolehkan main. Ingat, tadi pagi Ibu bilang apa? Ndak usah ada acara main lagi kecuali hari libur. Gimana? Ndak usah main aja, tah?"

"Main, Ibu," jawabnya pelan, lalu berangkat dalam diam. Tidak terdengar lagi omelannya yang selalu tak terima sebab disuruh tidur siang. 

Malamnya, saya menyesal lagi. Sebelum tidur, saya sempatkan minta maaf lagi seperti tadi siangnya.

Saya hampir berkata 'Alif, sih....", tapi keburu Alif minta maaf juga. Saya jadi minta maaf lagi dan berjanji akan lebih sabar dan lebih mengerti dia yang masih belajar menjalani hidup. 

Besok paginya.... 

Apa lagi? 

Ya begitu lagi. 

😑

Lamongan, 30 April 2025.

*kunjungi Alif Official Store di Shopee https://s.shopee.co.id/2Vec3vIiwa



Komentar

Postingan Populer