Boneka Flanel Tsum-Tsum
Hari ini, bermain flanel bersama Alif. Saya membuat boneka Tsum-Tsum, Alif membuat boneka yang definisinya masih diperdebatkan sampai sekarang. Kata Alif itu monyet, kata ayahnya itu bekicot. Saya doang yang enggak punya ide itu bentuk apa.
Meski begitu, saya dan ayahnya memuji hasil kerja kerasnya. Tapi habis melihat karya saya, Alif uring-uringan karena ngebandingin sama karyanya sendiri. Dia tidak sadar umur dan pengalaman.
"Hahhh, gimana ini!? Ndak bisa dijual kalau seperti ini. Tak jual lima ratus aja wes."
Demikian dia mengomel sambil menakar harga semena-mena, sambil berguling-guling. Dia yang biasa menghargai sampah tutup botol sekalipun, yang bahkan pemulung saja enggak sudi mulung, kini kehabisan ide soal harga diri barang buatannya sendiri. Harga lima ratus bagi Alif sudah semacam obral.
Sampai zuhur, Alif masih mengomel. Saya sampai harus menjelaskan sejarah penemuan lampu oleh Thomas Alva Edison.
"Alif tahu siapa penemu lampu?"
"Tidak tahu. Kenapa memangnya?"
"Namanya Thomas Alva Edison. Dia itu, ya, sudah seribu kali gagal waktu berusaha menemukan alat yang bisa jadi lampu. Tapi dia terus berusaha sampai akhirnya berhasil. Coba dia kayak Alif, ngambekan, gak bisa dikir marah, kita pasti masih gelap-gelapan sampai sekarang!"
Alif ngakak. Memang dia kurang suka mengambil hikmahnya, yang diambil lucunya doang, terus biasanya lanjut gagal fokus....
"Kenapa ada Thomas-nya, Ibu?"
Kann....
Suka-suka emaknyalah, Nak! Dia juga gak pengen ganti nama kayak Alif yang maunya dinamai Optimus.
😑
Lamongan, 6 Mei 2025.
Komentar
Posting Komentar