Ziarah Kubur
Ramadan cepat sekali berlalu. Tahu-tahu sudah di pertengahan Syawal. Padahal rasanya masih baru kemarin saya bersama Alif dan ayahnya berziarah kubur menjelang bulan puasa.
Waktu itu, saya tidak menyangka, cobaan orang puasa sudah dimulai bahkan sebelum orang-orang mulai berpuasa.
"Ibu, awas, jangan sampai menginjak kuburan, Ibu! Nanti dosa!"
Siapa yang nginjak, coba? Wong saya itu berada di antara nisan dua kuburan, bukannya di tengah kuburan. Dikiranya kuburan itu sambung-menyambung kayak gerbong kereta apa gimana?
Rupanya Alif sulit membedakan antara celah jalan dengan sepasang nisan satu kuburan. Jadilah jalannya lama dan takut-takut.
Belum lagi....
"Ibu, katanya, ndak boleh nunjuk-nunjuk kuburan, ya, Ibu? Memangnya nanti bisa kenapa, Ibu?"
"Ya nunjuk-nunjuk siapa saja juga ndak boleh! Ndak sopan! Nunjuk itu yang penting-penting saja kalau ada perlunya!"
Lalu susul-menyusullah berbagai pertanyaan seperti....
"Ibu, kenapa yang itu kuburannya ada lantainya?"
"Kenapa itu ada rumah-rumahannya?"
"Kenapa dikasih bunga? Biar apa?"
"Loh, kok ada wadah airnya?" Maksudnya kendi berisi air.
"Terus, kenapa ada banyak pohon di kuburan? Pohonnya kok sama semua? Kenapa harus pohon ini?"
"Itu! Itu orang ngapain kok mencabuti rumput? Pohon aja boleh ditanam."
"Ibu, kalau pohonnya tumbuh di kuburan, berarti akarnya menyerap orang yang di dalam kuburan, ya, Ibu?"
MasyaAllah, tidak disangka saya jadi banyak sekali berdzikir di area perkuburan untuk alasan yang bukan karena ingat mati.
Mendadak saya merasa beralih profesi jadi juru kunci makam yang merangkap Guide wisata yang penuh pemahaman seputar ensiklopedia kematian dan mitos perkuburan. Wisatanya wisata makam, tentu saja.
Sesampainya di makam Almarhum Bapak Mertua, saya menyuruh Alif membaca Al-Fatihah sebanyak-banyaknya.
Tadinya saya suruh baca An-Naba, An-Naziat, sama Abasa, dia gak mau. Qulhu aja maunya.
Sehabis berdoa, sebelum mulutnya mulai lagi bertanya-tanya, saya jelaskan kepadanya alasan kenapa kami mengunjungi makam.
"Alif tahu, kenapa kita ke sini? Bukan cuma lihat-lihat sama bersih-bersih kuburan! Tapi biar kita ingat kalau semua manusia itu pasti mati. Habis mati terus dikubur di dalam sini. Ditimbun tanah, sendirian, gelap. Di dalam sini, ndak ada lampunya, tahu! Dikuburnya sendiri-sendiri! Ndak ada teman atau kelurga.
Lihat, kuburannya Mbah Kakung ini, jauh, kan, sama kuburannya ayahnya Mbah Kakung? Jauh juga, kan, sama kuburannya keluarga yang lain? Ndak dikubur jadi satu, kan? Itu karena nanti kita itu bertanggungjawab sendiri-sendiri. Dosanya ditanggung sendiri.
Ndak ada temannya, kecuali amal ibadah sewaktu hidup. Yang menemani nanti itu sholat kita. Kalau ibadah bagus, sholatnya bagus, amal perbuatannya bagus, yang nanti temannya bentuknya bagus, tempatnya jadi luas dan terang.
Kalau sholatnya ndak bagus? Apa lagi amal perbuatannya jahat? Ya temannya nanti ular yang menyeramkan! Tempatnya sempit, gelap. Gitu terus sampai kiamat.
Makanya, jadi anak yang baik, sholatnya rajin, ibadah lainnya bagus, ngajinya juga. Mati itu ndak nunggu tua dulu. Alif lihat, di sana, ada kuburan yang kecil-kecil? Itu ya karena matinya ya masih kecil. Ndak nunggu tua kayak Mbah Kakung dulu.
Kita semua pasti mati. Pasti. Ndak tahu kapan. Makanya kita siap-siap saja berbuat baik yang banyak dan beribadah yang bagus, yang khusuk. Jangan mikirkan kesenangan terus."
MasyaAllah, panjang banget saya berceramah. Bahkan mungkin kepanjangan untuk bocil yang mulutnya mangap-mangap seperti mau bertanya terus di tengah ceramah. Sementara saya buru-buru menjelaskan sebelum ditanyai. Kurang lebih saya tahu apa yang mau dia tanyakan.
Tapi ternyata, memang kesempurnaan hanya milik Tuhan. Alif masih saja punya pertanyaan meski saya sudah membentengi dengan berbagai disklaimer dari segala arah.
"Tapi, Ibu, ini kuburan untuk semua orang apa orang islam saja?"
Lega. Ternyata pertanyaannya enteng.
"Iya, ini makam islam. Semua orang di desa ini islam. Kenapa?"
"Lah, terus, bayar apa ndak kalau dikubur di sini?"
"Tidak." Perasaan saya mulai enggak enak.
"Oh, berarti tanahnya ndak dijual, ya."
Kau mau ngapain, sih, wey!
😑
Lamongan, 11 April 2025.
Komentar
Posting Komentar