Pawang Alif


Liburan lebaran kemarin, Alif hanya sebentar saja menginap di rumah Mbah Uti di Dempel. Lebaran hari kedua, saya dan Suami segera mengajak Alif pulang karena kami sibuk kejar setoran. Toh, besok-besok masih bisa sering ke sana lagi.

Tapi Alif dan Mbah Uti berkehendak lain. Keduanya maunya berlama-lama. Mbah Uti maunya Alif menginap seminggu biar bisa lama melihat cucunya. Alif maunya juga menginap seminggu atau bahkan selamanya biar bisa lama melihat tivinya Mbah Uti. Padahal tinggal sunat saja beres.

"Alif ditinggal ngono piye, Nduk?" tawar Ibu. (Alif ditinggal bagaimana, Nduk?)

Sebelum menjawab, saya tersenyum bijak dulu, lalu memperingatkan Ibu atas risiko besar yang akan Beliau tanggung. "Lha Ibu purun tah, mangke Alif lak ruewel lho, Buk, dalune."

(Lha Ibu mau, tah? Nanti Alif rewel lho, Bu, malamnya.)

"Lho iyo," jawab Ibu yang akhirnya sadar.

Saya ketawa elegan, seelegan Putri Indonesia menang sambung ayam.

Sebenarnya, di luar soal kejar setoran dan kemanjaan Alif yang meningkat setiap kali di sana, saya juga ketar-ketir karena hampir selalu khawatir. Mertua baik, ipar baik, suami baik, tinggal anak satu itu yang setiap kali berceloteh langsung bikin saya pengen lari ke warung seblak.

"Ndak mau! Alif maunya telur dadar buatannya Ibu! Yang ini ndak suka!" Demikian celetukan Alif ketika ditawari makan oleh mbak ipar. Ini baru masalah makan, belum hal lain.

Seperti biasa, celetukan tak seberapa keras itu terpantau juga oleh telinga saya yang sedang duduk di ruang tengah. Segera saya lari menyelamatkan harga diri.

"Apa telur ceplok aja, De juga bisa bikin," rayu mbak ipar yang masih telaten menghadapi keponakannya.

"Ndak mau. Tapi kalau Ibu yang bikin, Alif mau. De itu ndak tahu yang seperti apa yang Alif suka."

Makin Alif menjelaskan, makin berguguran harga diri saya.

"Sudahlah, makan aja itu, Nak. Sama-sama telur, kok. Yang ada saja itu lho, dimakan," paksa saya dengan gemetar.

"Ndak sama, Ibu. Ndak seenak seperti yang Ibu bikin. Alif maunya telur dadar yang ada krispi-krispinya itu, lho, atau telur ceplok ndak pa-pa, yang kuningnya dikopyok-kopyok seperti yang biasanya Ibu bikin itu!"

Dikopyok-kopyok di sini maksudnya kuning telurnya dipecah dan diratakan di permukaan putih telurnya.

"Itu, di belakang juga ada lodeh ayam, Alif mau?" tawar Mbak Ipar lagi. Sejak awal memang menu itu tidak ditawarkan karena biasanya Alif lebih suka olahan telur.

"Iya, Alif, kan, suka lodeh ayam, kan?" tambah saya dengan bersemangat.

"Memangnya, itu Ibu yang bikin?"

"Ya bukan."

"Ya wes, Alif ndak mau! Alif maunya Ibu yang masak. Kenapa bukan Ibu yang masak, sih? Apa Ibu malas?"

Wah, pelanggaran. Habis dia saya uyel-uyel mumpung Mbah Uti enggak lihat. Sambil memukuli pantatnya, saya mengomel panjang soal masakan yang memang sudah ada sebelum kami datang. Jadi kenapa harus masak lagi. Kan gitu. Alif yang tak merasa bersalah, cuma ngakak kesenangan setiap kali tangan saya menabuh pantatnya.

"Lagi, Ibu! Lagi!" serunya bikin saya senewen.

Tapi, meski begitu, ada sedikit kebanggaan menyusup di hati. Bahwa di balik nyinyirannya tiap hari soal menu masakan saya, ternyata Alif sebenarnya suka sekali, bahkan ketergantungan. Akhirnya saya punya senjata yang akan membuat dia kelak selamanya rindu pulang kepada saya.

Hanya saja, itu tidak berlaku lagi ketika Alif bertemu seorang perempuan yang selalu dipanggilnya Ninik Atik. Dia adalah bulek saya dari pihak keluarga di Probolinggo. Meski dipanggil Ninik, usianya sebenarnya tidak sesepuh itu. Masih sekitar empat puluhan. Sejauh ini, dialah pawang Alif yang tak terbantahkan.

Ninik Atik adalah yang paling tabah di antara semua saudara dan keluarga yang pernah Alif temui. Bersama Ninik Atik, Alif bisa kerasan, nyaman, dan terpenuhi semua ambisi bertanyanya.

Ninik Atik punya stok kesabaran unlimited. Tahan berjam-jam, bahkan pernah semalaman, dengan telaten menjawab pertanyaan-pertanyaan Alif yang unlimited.  Sampai mau subuh, bahkan sambil menggendong Alif sampai Alif tertidur. Saya sendiri aja enggak se-effort itu.

Setiap kali Alif bermain ke rumah Ninik Atik, mereka akan bercakap-cakap lama sampai kadang lupa waktu. Apa lagi Ninik Atik senantiasa menyuguhkan jajanan dan minuman yang kalau habis akan ditambahnya lagi dengan senang hati.

Belum lagi soal memasak. Ninik Atik yang lulusan tata boga adalah satu-satunya yang masakannya enggak pernah dinyinyirin oleh Alif. Dan setiap kali saya menyuruh bocil itu untuk merangking masakan siapa yang paling juara enaknya, tahta tertinggi selalu ada di Ninik Atik. Bahkan sewaktu Ninik Atik dan Akik Mujib (paklik saya) berjualan bakso, Alif jadi selalu membandingkan bakso apa pun yang dia temui dengan bakso buatan Ninik Atik. Tentu yang juara yang buatan Ninik.

Pernah suatu kali anak semata wayang Ninik Atik, Ari namanya, berinisiatif mengajak Alif jalan-jalan. Berangkatlah tiga orang itu: Alif, Ari, dan Ninik Atik. Mereka berkeliling ke pantai pelabuhan dan taman-taman yang tersedia di Kota Probolinggo.

Pulangnya, Ari yang bertugas menyetir motor, langsung trauma dan kelelahan. Sementara Ninik Atik cuma tertawa sambil bercerita kepada saya yang mendengar saja sudah keder.

Gimana enggak keder, di pantai, Alif rupanya mengajak Ari menelusuri sepanjang sisi pantai pelabuhan yang bisa dijangkau manusia. Katanya, dia sedang mencari paus yang viral di Probolinggo karena saat itu memang musim migrasi paus di daerah pantai sana. Konon, mereka sudah memutar berkali-kali demi menemukan paus. Ari menyerah kepada ibunya karena putus asa sebab Alif mulai mengajak ke tengah laut mencari paus.

Di taman kota lain lagi. Sebagaimana yang pernah terjadi kepada saya, Alif mengajak Ari dan Ninik Atik berkeliling alun-alun yang luar biasa luas itu dan mencoba beberapa permainan yang dijajakan di sekitarnya. Itu belum ke taman kota yang lain.

Belum lagi tentang pertanyaan sepanjang jalan, pertanyaan seputar semua baliho yang Alif temukan, pertanyaan tentang isi lautan sampai luar galaksi, semua itu harus dijawab sepanjang hari saat mereka berkeliling.

Tidak lupa juga saat si Om, Ari, menawarkan Alif untuk naik odong-odong, jawabannya membuat anak SMA itu pening.

"Buat apa? Ini, kan, permainannya anak kecil, Om!"

Ari langsung mengadu ke Ninik Atik. "Ma, memangnya Alif ini bukan anak kecil, tah, Ma?"

Dan masih banyak lagi cobaan ketika berani bertanggung jawab mengajak Alif jalan-jalan. Pulang-pulang si Om Ari langsung tepar. Antara kelelahan dan terkejut bahwa kehidupan bisa seberat itu. Sebagai anak tunggal, tantangan ini tampaknya terlalu berat baginya.

Karena itulah saya selalu berpikir panjang setiap kali ada yang berniat baik mengajak Alif jalan-jalan atau menginap tanpa saya ikut serta.

Jadi, siapa kemarin yang katanya pengen ketemu Alif, pengen ngajak jalan-jalan Alif, pengen dipaketin Alif, pengen ngobrol sama Alif? Emang sanggup?

😆😆😆

Lamongan, 16 April 2025.

Komentar

Postingan Populer