Nenek Sihir di Malam Takbiran


Paling seru kalau ikut takbiran di dusun Mbah Utinya Alif tinggal. Sejak awal saya nikah dulu, acaranya kurang lebih masih sama, yakni keliling kampung sambil bertakbir dan membawa obor bambu. Diakhiri dengan pembagian doorprize yang mana semua orang pasti dapat. 

Maka, sore itu, di hari terakhir bulan Ramadan, saya, Alif, dan Suami langsung berangkat ke kampung dengan bersepeda motor. Masih di wilayah Lamongan juga, tapi jaraknya dari kota sejauh tiga puluh kilometer. Kami tiba di sana pas saat Azan Maghrib bersahutan. 

Malamnya, sehabis isya, saya, Alif, dan Mbak ipar langsung berangkat di titik kumpul acara. Di sana sudah ramai warga berkumpul. Dari yang bayi sampai yang tua. Bahkan Mbah Uti juga ikut menyusul demi melihat cucunya bersenang-senang. Ayah Alif tidak ikut karena lelaki itu terlalu introvert untuk bertabah ria di keramaian. 

Lama saya menunggu di sana. Alif sudah mode pembawa acara radio rusak. Berisik. Dia ribut bertanya kenapa tak kunjung berangkat. Belum lagi saya tak melihat satu pun obor disiapkan. Saya yang agak kecewa, berniat pulang dan merecoki Suami. 

"Alif, Ibu pulang aja, ya...."

"Iya, Ibu lebih baik pulang aja," sahutnya terlalu cepat. 

Saya yang belum kelar bicara langsung merasa terusir. Padahal saya gak pernah ngerepotin dia. Paling cuma ngajak beli jajan. 

"Sek, to, Ibu belum selesai ngomong!" omel saya.

Alif diam menunggu saya lanjut ngomong lagi. 

"Alif sama De (Bude), ya. Nanti dijemput sama Ayah." Saya ngomong ke Alif, lalu ke mbak ipar. "Ya, De, ya?"

"Iya, tinggal aja," jawab mbak ipar yang sudah menggandeng tangan Alif. 

Saya pun berlalu pulang dan membuat terkejut ayah Alif. 

"Haiiiiiii! Aku pulaaaangg!" sapa saya ceria. 

"Kenapa pulang? Ndak ikut?"

"Ndak jadi wes, Mas. Ndak ada obornya, jadi ndak kerasa istimewa. Padahal, kan, yang bikin khas ya obornya itu," keluh saya, muram. 

"Lho, ada, tapi nanti di depan sana. Tadi aku dari sana, sudah disiapkan banyak obor. Bapak-bapak panitia sudah siap mengawal. Kan start-nya yang di depan sana, di pinggir jalan." Ayah Alif menjelaskan dengan penuh ketabahan. 

"Oh, iyakah?" Saya langsung ceria lagi. 

Ayah Alif langsung memasang wajah tabahnya. Saya cuma nyengir terus langsung pamit lagi. Berangkat lagi. Gak tahu malu memang. 

Dari depan rumah, terlihat rombongan sudah tiba di tempat start. Saya langsung menyusul. Alif dan budenya sudah baris rapi tapi belum pegang obor. Padahal bocil lain sudah banyak yang pegang. Tanpa banyak tanya, saya langsung minta dua obor ke bapak panitia entah siapa. Saya gak kenal. Bahkan mungkin dia gak kenal saya. Untung dikasih.

Kami pun berjalan dan bertakbir bersama dalam terang api obor dan diiringi sound system yang memandu di depan. Tugas saya simpel. Cukup berjalan, foto-foto, rekam video, sesekali menggandeng Alif bergantian dengan budenya, sesekali memegangkan obor Alif ketika dia lagi gak mood pegang. Semacam pembantu umumlah pokoknya. 

Terlihat Mbah Uti mengikuti sambil melihat Alif dari rombongan belakang. Saya berdadah-dadah seperti asisten artis yang pansos. Sementara Alif beneran seperti artis yang mode capek, cuek, dan moody. Dia enggak peduli siapa-siapa karena agak merasa tertekan dengan padat dan ribetnya suasana. 

Belum selesai berkeliling kampung, hujan mendadak turun. Mbah Uti yang tadinya sudah balik ke rumah langsung berangkat lagi sambil membawa payung buat cucunya. Saya dan mbak ipar tak dihitung lagi. Wkwk. 

Anaknya aja enggak laku, apa lagi menantu. Sementara cucunya yang sudah di fase nge-rap dengan kecepatan tinggi itulah yang dikejar-kejar. 

Habis berkeliling, tibalah sesi undian doorprize. Masing-masing peserta diminta mengumpulkan kupon yang sudah dibagikan. Karena masih gerimis, semua orang berkumpul di sebuah teras yang luas di area pinggir jalan yang tadinya dijadikan tempat start takbir keliling. Sebelum pengundian dimulai, panitia menyalakan berbagai macam kembang api untuk memeriahkan suasana. 

Tahun-tahun sebelumnya, entah kenapa, Alif selalu jadi yang pertama dapat undian. Kali itu dia dapat buku, berikutnya dapat kotak bekal. Tapi kali ini lain. Sampai hampir separuh peserta sudah mendapatkan hadiah, saya dan Alif tak kunjung dipanggil. 

"Lama sekali, sih, Ibu, ndak dapat-dapat. Paling ndak menang ini, Ibu!" 

"Semua orang pasti dapat, kok. Wong hadiahnya aja lebih. Kan enak, makin lama, hadiahnya makin besar. Memangnya Alif mau kayak yang pertama tadi? Tahu, dia dapat apa? Dapat Sunlight! Mau?"

"Enggak."

"Apa kayak De, tadi, dapat kaus kaki, mau?"

"Enggak. Alif maunya dapat mobil remot."

Saya langsung istighfar. Enggak di agustusan, enggak di sekolahan, apa apun acaranya, kalau ada doorprize, Alif harapannya selalu mobil remot. Mana ada orang nyumbang mobil remot untuk acara beginian. 

Sudah untung enggak dapat panci atau malah centong nasi. 

Lama saya menabah-nabahkan Alif agar mau bersabar menunggu. Akhirnya, nomornya dipanggil juga. 2-0-2-4.

Dengan semringah, bocil tujuh tahun itu berjalan ke depan dan kembali dengan muka ditabah-tabahkan. Dia dapat sajadah. 

"Sudah, ya. Yang penting sudah dapat. Enggak mungkin ada hadiah motor remot. Sekarang, pulang aja sama De, ya!" 

Alif mengangguk. Mbak ipar yang sudah dapat hadiah juga pun menggandeng keponakannya pulang menuju Mbah Uti yang sudah lama menunggu di rumah. 

Tinggal saya sendirian. Demi kompor gas, saya mencoba bertahan. 

Tapi ternyata saya tak seberuntung itu. 

Setelah nomor saya disebut, saya langsung mengambil hadiah dan tidak kembali ke tempat duduk tadi seperti yang orang-orang lakukan. 

Saat semua orang mendapat hadiah yang enggak mencolok, agak elegan, dan mudah dibawa, saya malah dapat sapu. 

Sapu, gitu! 

Mending Sunlight tadi. Seenggaknya bisa ditenteng dengan terhormat. 

Lha ini sapu! 

Tapi, ya, sudahlah. Apa boleh buat. 

Langsung saja benda itu saya pakai terbang pulang dengan muka yang ditebal-tebalkan. 

Kok ada aja sih cobaan yang menggugurkan pencitraan.

Mana besoknya lebaran lagi. 

🤦‍♀️

Lamongan, 12 April 2025.

*masa PO buku Alif Family Diary #2 dan Pencerita Mati diperpanjang sampai 17 April 2025. Jangan sampai ketinggalan lagi, ya. 🤗 Buruan order di 082328206358




Komentar

Postingan Populer