Monetisasi Konten
Selama ini, Alif selalu bertanya-tanya kenapa saya sering banget main Facebook.
"Ibu, sebenarnya Ibu itu ngapain, sih, di fesbuk? Kok, setiap haaariiiii, Alif lihat, Ibu sukanya buka fesbuk terus. Memangnya, bisa dapat uang, tah?"
Beginilah rasanya punya anak rasa emak. Setiap hari, saya dan Alif bergantian merepet. Dulu-duluan, sahut-sahutan, salip-salipan. Berisik bukan kepalang. Status saya sebagai perempuan yang harus menghabiskan dua puluh ribu kata per hari mulai tersaingi.
Sejujurnya, susah bagi saya menjawab pertanyaan Alif yang satu itu. Ibaratnya, saya sedang kesulitan ngeles ketika dimarahi emak.
Untunglah saya segera sadar diri bahwa sayalah emaknya, bukan dia.
"Terserah Ibu, dong, mau ngapain. Hape punya Ibu, kuota punya Ibu, urusan makan sama pakaian beres, ndak ada yang terlantar, ndak ada yang kelaparan. Apa masalahnya, haa?"
Tapi itu dulu. Masa hina itu sudah berlalu. Karena sejak awal puasa lalu, tiba-tiba Facebook membuka fitur monetisasi konten untuk saya. Maka, saya bangga-banggakanlah gaji 0.01 dolar itu kepada mandor komentator kalkulator satu itu.
"Alif, tak kasih tahu, ya, mulai sekarang, kalau Ibu buka Facebook, itu berarti Ibu sedang bekerja. Ibu dibayar, tahu! Haa! Tahu, kan, sekarang, kalau selama ini Ibu main Facebook itu ada gunanya! Huahahahaha, senangnyaaaa!"
Demikian hebohnya saya membanggakan upah nol koma nol satu tadi itu.
Ini memang saat yang saya tunggu-tunggu untuk pamer kepada anak sendiri.
Kubungkam nyinyiranmu, Nak, dengan uang senilai nol koma nol satu dolar.
Bangga nian saya malam itu. Nol koma tadi saya ulang-ulang tak peduli berapa kali Alif bertanya berapakah sebenarnya nilah rupiah dari nol koma tadi.
Saya dan Alif pun berisik lagi. Duit yang belum tentu cair itu, yang nilainya enggak sampai dua ratus perak itu, membuat keluarga kami riuh bin rusuh.
Hanya ayah Alif yang diam, santai, tidak menganggapi. Sebagai satu-satunya yang waras, dia biasa saja. Dia sudah terbiasa dengan semua kerusuhan istri dan anaknya. Padahal enggak kehitung berapa kali saya menunjukkan tabel dan grafik dolar nol koma itu sampai berminggu-minggu setelahnya.
"Iya, kan, Mas?"
"Iya."
"Bagus, kan?"
"Iya."
"Ikut senang, kan, Mas?"
"Iya."
Kalau saya tukang 'Tidak', Suami tukang 'Iya'.
Semua kehaluan saya dia iya-in.
Lain kalau saya sama Alif....
"Hah? Kok, bisa? Gimana caranya Ibu bisa dibayar sama fesbuk?" tanyanya kayak saya ini halu banget.
"Ya bisa-lah. Kan, Ibu ini pinter! Alif aja yang ndak percaya."
"Lha iya, pinternya itu lho, apa, Ibuuu?"
Ternyata selama ini dia bingung mencari ke mana kepintaran ibunya.
"Pinter menulis-lah, bercerita, mengarang, gitu lhoo!"
"Oh, jadi, banyak yang membaca cerita Ibu?"
"Lumayan."
"Berarti, Ibu ini populer?"
Nemu kata populer di mana pula ini bocil!
"Kata siapa? Kapan Ibu bilang begitu? Biasa saja kok!"
"Ndak kata siapa-siapa. Kata Alif sendiri," jawabnya mencurigakan.
"Tapi, lho, Ibu, Ayah lebih pinter!" sambungnya, seolah saya akan menggeser posisi ayahnya di matanya sebagai orang paling pintar di dunia melebihi presiden.
"Ayah pasti juga populer di fesbuk, ya, Ayah, ya?" Dia cari pembelaan.
Sementara yang dibela....
"Apa? Ayah ndak ikut-ikut. Alif ngobrol sama Ibu kok bawa-bawa Ayah."
Saya ngakak sampai terguling.
Meski begitu, Alif masih belain ayahnya yang enggak saya apa-apain.
"Tapi, kan, Ayah juga dapat uang dari fesbuk, ya, kan, Ayah?"
"Tidak."
Saya ngakak lagi sampai sakit perut. Belum tahu dia kalau Ayah itu selalu jadi timnya Ibu.
Meski begitu, kerusuhan malam itu tidak saya lanjutkan. Karena semakin banyak yang dia tahu, semakin besar potensi dia akan minta royalti.
Masa iya duit 0,01 tadi kudu dibagi lagi.
🥴
Lamongan, 11 April 2025.
Komentar
Posting Komentar