Mancing


Baru selesai sarapan, Alif sudah memulai tugasnya sebagai wartawan lokal dari Departemen Ketenagakerjaan. 

"Ibu, Ibu waktu kecil dulu, pernah mancing, ndak?"

"Tidak."

"Ayah waktu masih kecil dulu, pernah mancing?"

"Sering."

"Itu, Ibu, Ayah ternyata bisa mancing!" 

Lagi-lagi Alif mengklarifikasi ke saya bahwa ayahnya yang hebat, yang pinternya melebihi presiden itu, ternyata bisa mancing. Jadi janganlah sekali-sekali Ibu merasa lebih pinter dari ayah. Kira-kira begitulah pesan tersiratnya. 

"Ayah dapat ikan, ndak?"

"Banyak."

"Ibu, Ayah ternyata pinter mancingnya! Bisa dapat banyak ikan!"

Saya mulai senewen. Kenapalah dia harus laporan lagi, laporan lagi ke saya. Iya, tahu, ayahnya sakti! Dikit lagi jadi wali!

"Ayah dapat ikan apa biasanya?"

"Ayah biasanya dapat udang. Besar-besar. Anak lain ndak ada yang bisa mancing udang."

"Wah dapat udang, Ibu!"

"Iyaaaaaaaaaaa."

"Terus, sama Ayah udangnya diapakan? Dijual ndak?"

Saya langsung tahu ke mana arah percakapan ini bermuara. 

Setelah kemarin berusaha memberdayakan ibunya, sekarang ayahnya dapat giliran juga. 

Lagi pula, di Green Flower belum ada tukang mancing udang yang besar-besar. 

😆

Lamongan, 20 April 2025.

Komentar

Postingan Populer