Geladi Resik
Jelang lebaran kemarin, saat orang-orang sibuk mempersiapkan akreditasi perkinclongan rumah, saya justru mode slow dan hemat energi. Lemak semakin terkuras, tubuh semakin lesu. Siapa sih sebenernya yang memulai acara akreditasi rumah ini? Kenapa kerja rodinya harus pas puasa? Belum belanja persiapan lebarannya, bikin jajannya, berburu diskonan Shopee-nya. Eh nyampenya pas hari lebaran lebih seminggu.
Dalam pengaruh kelelahan di hari-hari terakhir perjuangan melawan hawa nafsu, saya yang bak angin sepoi-sepoi, hanya bisa menyaksikan tetangga depan rumah yang sudah mulai romusha. Pakaian, kursi, meja, gorden, lemari, anak, mantu, cucu, semua mereka keluarkan.
Jemuran yang biasanya penuh dan rimbun sampai kadang tumbang, tiba-tiba saja naik pangkat jadi simulasi laundry kiloan. Kan saya jadi pengen nitip.
Dari jendela, saya menikmati pemandangan isi rumah dan deretan jemuran mereka yang melambai-lambai. Biasanya, kalau tetangga depan menjemur banyak pakaian, itu berarti siang itu tidak akan hujan. Maka dengan tenaga seikhlasnya, saya mulai mencuci pakaian.
Siang sudah mulai redup saat saya baru selesai mencuci. Seperti biasa, saya berleha-leha dulu sebentar untuk mengisi energi dan memakai sunscreen andalan.
Ternyata langit redup bukan karena mau sore. Melainkan mendung. Tapi tak apa. Saya sudah lama berdamai dengan cuaca. Oleh karena itu, saat anak-anak tetangga depan berbondong-bondong mengangkat jemuran karena mendung sudah pekat dan angin mulai kencang, saya baru keluar dengan ketenangan seorang biksu yang baru turun dari bertapa di gunung: kelaparan.
Kecepatan gerak saya tak sampai setengah dari kecepatan gerak mereka. Mereka panik, saya senyum-senyum. Terserah apa kata cuaca. Cucian akan tetap saya jemur meski hujan badai sekali pun. Saya menata jemuran dengan rapi dan estetik. Kaus sebelahan dengan kaus, putih sebelahan dengan putih, hitam dengan hitam, baju Alif dijajarkan sepasang-sepasang sesuai dengan setelannya.
Pantaslah anak bungsu tetangga depan yang masih SD tidak dapat menahan diri untuk tidak memperhatikan saya. Dia menoleh, saya senyumin. Noleh lagi, saya senyumin lagi. Gak kunjung selesai menjemur gara-gara anak tetangga.
Akhirnya anak tetangga pun berlalu sambil membawa gombalan jemuran, sambil berjalan miring-miring sambil masih melihat saya.
😆
Lamongan, 15 April 2025.
Komentar
Posting Komentar