Slow Motion


Kemarin sore, karena selama Ramadan sudah enggak ada lagi tukang es wawan keliling, tukang susu kedelai keliling, sama tukang bakpau keliling, Alif akhirnya mencegat tukang Sari Roti keliling.

Pokoknya semua yang keliling dibeli sama juragan kecil itu. Ini kalau ada tetangga lewat terus bolak-balik berlalu lalang, gak lama pasti dibeli.

Mana kemarin bapak-bapak Sari Rotinya ramah banget lagi. Ramahnya ngalahin kasir IndoAlfa.

"Ini, ya, Dorayaki-nya. Terima kasih sudah beli," ucapnya dengan suara yang renyah sekali.

Dorayaki enam ribuan itu pun berpindah tangan dan siap disimpan untuk motivasi bangun sahur nanti. Gaya betul sekali jajan langsung enam ribu. Perasaan saya waktu kecil dulu jajannya enggak se-elite ini. Mana dia pakai duit sendiri pula.

"Mas, lihat aja besok, itu tukang Sari Roti keliling pasti kalau lewat depan sini akan dipelankan laju motornya," bisik saya ke ayah Alif.

Seperti biasa, ayah Alif cuma diam mendengarkan. Susah memang mengajak dia berghibah apa lagi di bulan puasa.

Dan lagian saya enggak butuh disahutin atau dikomporin. Saya bisa membara sendiri.

"Kayak yang kemarin-kemarin kan gitu semua. Tukang susu kedelai, dibeli, terus besok-besok lewatnya slow motion sambil noleh dan senyum ke arah sini. Terus tukang es wawan, tukang bakpau juga. Segala orang jualan kalau lewat sini langsung slow motion itu lho kok bisaaaa." Saya merepet terus ngakak sendiri.

Gak habis pikir bisa-bisanya depan rumah kami jadi arena akrobatik slow motion para penjaja makanan.

Karena kesal, saya luapkan emosi terpendam ke Suami.

"Ya sudah, besok aku belikan, ya!"

😇

Lamongan, 18 Maret 2025.


Komentar

Postingan Populer