Rumah Nenek
Setiap kali libur sekolah tiba, setiap weekend, dan hampir setiap pulang sekolah, Alif selalu ribut nanyain kapan mau ke rumah Mbah Uti. Enggak jauh, sih. Cuma sekitar tiga puluh kilometer. Masih satu kabupaten.
Jadilah hampir setiap dua minggu sekali Alif diantar ke sana.
"Wuuaaahhhh, semakin dekat, Alif rasanya semakin ndak sabar, Ayah!" ucapnya dengan gemetar.
Kalau saja saya enggak tahu alasan sesungguhnya, pasti saya sudah terharu. Jangan dikira Alif sekangen itu sama Mbah Uti. Karena tujuan Alif tak lain ternyata adalah tivi.
Kelakuan bocil di rumah nenek memang beda jauh sama di rumah sendiri. Rumah nenek adalah istana dengan singgasana kasur depan tivi dan remot sebagai mahkotanya.
Tugas Alif di rumah Mbah Uti cuma bernapas dan melihat. Melihat tivi.
Mbah Uti yang memang sayang banget, dengan senang hati memfasilitasi semua itu. Dari kasur, tivi, lampu, kipas angin, minuman, cemilan. Kadang juga sambil dielus-elus sampai dipijitin. Belum pujian-pujian sepanjang waktu.
Kalau ada saya, saya udah-udahin itu semua. Biar enggak kebiasaan. Gantian Alif yang kalau masih mau nonton tivi berarti harus mau mijitin Mbah Uti, harus gampang sholatnya ketika dengar azan, harus gampang makannya, apa aja harus mau, gak boleh makan sambil nonton tivi, gak boleh kelamaan nonton tivi, harus mau gantian channel sama yang lain.
Intinya, di rumah nenek, sayalah antagonisnya.
Sering Alif mengeluh kenapa Mbah Uti sering tanya-tanya soal kartun yang sedang dia tonton. Mbah Uti tanya-tanya karena kangen, sementara Alif ingin memaksimalkan efisiensi nonton tivi yang jarang-jarang itu. Padahal, solusinya simpel. Tinggal sunat aja, sekali potong langsung dibelikan tivi sama ayahnya. Tidak berlaku kelipatan.
"Kenapa, sih, Ibu, Mbah Uti itu kok tanyaaaaaa terus kalau Alif nonton tivi? Kan Alif jadi ndak dengar itu tivinya ngomong apa," keluhnya tak sadar diri.
"Ya gitulah kalau Ibu nonton sama Alif. Alif tanyaaaaaaa terus ndak habis-habis. Rasakan itu. Hahahahahaha," jawab saya sepenuh hati. Puas banget anak kena karma jalur mertua.
Pokoknya bener-bener rumah nenek adalah istana kerajaan bagi Alif. Selain dilimpahi tivi dan jajan, Alif juga dilimpahi uang yang sesuai favorit Alif: lembaran dua ribuan.
Mbah Uti setiap habis subuh sampai sekitar jam delapan biasa berjualan di warung depan rumah. Sebuah warung kayu berwarna biru. Jualannya bermacam-macam. Ada getuk singkong tumbuk dengan topping lelehan gula merah dan kelapa. Ada menir, ketan, dan kadang ada getuk ubi ungu tumbuk juga. Setiap hari, selama Alif tidak di sana, Mbah Uti akan menyisihkan lembaran dua ribuan untuk diberikan ke Alif saat berkunjung ke sana.
"Ini, Alip, Mbah Uti punya duit banyak dapat dari jualan. Satu hari Mbah nabung dua ribu untuk Alip. Sekarang sudah banyak. Ini dua minggu, empat belas hari," ucap Mbah Uti sambil menyodorkan segepok uang dua ribuan.
"Wah, berarti, ada dua puluh delapan ribu, ya, Mbah Uti?" seru Alif dengan kecepatan menghitung yang mengesankan.
"Iyalah, tinggal dihitung aja itu berapa, Lip. Sehari dua ribu, kan lumayan. Kalau tiga puluh hari?"
"Enam puluh ribu!"
"Kalau seratus hari?"
"Dua ratus ribu!!!!"
Mbah Uti takjub. Saya lebih takjub lagi. Laju betul dia kalau kalau menghitung duit. Hanya berlaku pada duit.
Alif di rumah Mbah Uti jadi pandai berhitung.
Napas, dapat duit.
Injak-injak punggung, dapat duit.
Pamit, dapat duit.
Sampai pamer hapalan pun....
"Lip, Alipp, katanya Alip sudah hapal surat An-Naba, iya? Coba sini Mbah Uti mau dengar, nanti tak kasik duit. Ini Mbah Uti sudah bawa dompet."
Demikian suara yang saya dengar dari sofa depan kamar. Alif dan Mbah Uti posisi di belakang, di ruang tivi.
"Berapa, Mbah?" tanya Alif, mulai menggerus harga diri ibunya yang selalu kembali ke nol setiap datang ke sana.
"Lima ribu?"
Saya yang sedang rebahan hapean, langsung siaga satu. Hape saya letakkan.
Tepat saat Alif berkata....
"Cuma lima ribu? Bu Guru aja ngasih Alif dua puluh ribu, kok Mbah Uti cuma lima ribu?"
Seketika saya langsung lompat lari ke belakang, membersihkan nama baik.
Tapi percuma.
Semua sudah terlambat.
Tahu gitu tadi langsung gali kubur aja.
Lamongan, 27 Maret 2025.

Komentar
Posting Komentar