Ramadhan Core
Beginilah kurang lebih bagaimana keluarga kami melalui hari-hari Ramadhan.
"Itu, dengar, kucingnya ramai sekali. Mungkin mereka sedang nonton tivi," pancing ayah Alif di saat hari baru terang tapi kucing tetangga malah ribut.
Apalah si ayah itu, masih pagi seharusnya tidak halu. Dia sengaja begitu karena ada yang sedang sibuk membaca komik. Mungkin dia sudah tidak nyaman lagi dengan keadaan yang terlalu damai.
Sebagai istri, saya hanya bisa mendukungnya.
"Mungkin acara tivinya sinetron indo terbang. Makanya ngomel kucingnya," sahut saya keras-keras, tapi target tetap diam.
Sepertinya jokes bapack-bapack dan emack-emack kami tidak laku.
Agak siang, Alif pamit bermain. Seperti biasa, dia tidak pernah sepakat dengan mode hemat energi. Konsepnya adalah dia yang puasa, orang tuanya yang kena cobaan, karena pas siang saat dia pulang bermain, sayalah yang memperjuangkan puasanya.
"Ibuuuuuuuuu, gimana ini Alif hauuuussss sekali, Ibuuuuu!"
Seketika saya kembali melakukan penyuluhan ala ibu-ibu posyandu. Tidak lupa membaca ulang disclaimer yang dia buat sebelum berangkat main tadi, bahwa nanti tidak akan haus, nanti tidak akan kelelahan, nanti tidak akan ricuh.
Sementara itu, ayahnyalah yang memilih melakukan hal yang agak masuk akal. Dia menyiapkan kasur lantai, bantal, dan kipas angin untuk menghipnotis anaknya.
Dan itu berhasil.
Sore, cobaannya lain lagi. Alif mandi lama sekali sampai harus dijemput ayahnya ke kamar mandi.
"Alif itu, ya, sedang kumur-kumur, Ayah. Kumur-kumurnya tak bikin yang lama biar siapa tahu tidak sengaja ditelan. Kan, kata Ayah, kalau tidak sengaja kan tidak apa-apa!"
Menjelang maghrib, saya sudah merasa di level Mario Teguh mengobarkan semangat bocil sesat.
"Ibu, sepertinya Alif ndak kuat ini. Alif tak minum aja, ya, biar kuat puasa sampai maghrib."
"Kan sebentar lagi maghrib, paling cuma berapa menit!"
"Lha iya, Ibu!"
"Apanya yang lha iyaaaaaaa!?"
Lagi-lagi dia menggunakan kata lha iya dengan sewenang-wenang.
Giliran azan, baru dia diam karena mulutnya sibuk minum.
Perjuangan saya menahan hawa emosi ternyata belum selesai. Sehabis buka puasa, saat Alif sudah bosan makan, mulutnya mulai lagi....
"Huaaahhhhh enaknyaaa! Ibu, ndak terasa, ya. Cepat sekali maghribnya. Ternyata puasa itu gampang, ya, Ibu. Besok Alif puasa lagi aja ah!"
Lamongan, 26 Maret 2025.

Komentar
Posting Komentar