Menanam Bunga


Sekitar empat minggu yang lalu, saya bersama Alif menanam bunga di depan rumah. Ayah Alif bertugas menyiapkan lahan dan meratakan serta menggambarkan tanah, saya dan Alif tinggal menanam saja. Pagi itu berlangsung dengan riang gembira sampai sebelum kami bersama-sama masuk rumah.

"Ibu, nanti sore paling sudah tumbuh, ya, Ibu, ya?" tanya Alif enteng.

Saya yang diliputi kebahagiaan sehabis menanam biji-biji bunga masih bisa menanggapi dengan ramah.

"Belumlah, paling beberapa hari lagi baru tumbuh," jelas saya penuh keyakinan.

Ayah Alif tidak menanggapi sedikit pun meski saya tahu dia dengar percakapan lomba mengarang kami.

Gimana enggak lomba mengarang, karena keterbatasan pengetahuan, tidak ada satu pun pendapat saya dan Alif yang benar. Biji itu bahkan hingga seminggu kemudian tak jua tumbuh.

Jika Alif menanyakan kepada saya kabar biji bunga itu setiap pagi, siang, sore, malam, pagi lagi, begitu seterusnya hingga empat hari, saya justru terus bertanya kepada ayah Alif setiap pagi, setiap hari, selama kira-kira dua minggu.

Hanya si ayah ini yang tidak ribut soal tanaman bunga itu sejak awal hingga kini. Dia tidak berharap, tidak penasaran, dan tidak khawatir sedikit pun.

Dia ternyata sudah pasrah begitu saja sejak awal, sejak pertama kali melihat cara saya menanam yang seperti mau menyimpan harta karun: kubur dalam-dalam.

Saya tahu, saya sudah diingatkan untuk tidak terlalu dalam menanam biji. Tapi apa daya, saya merasa terancam oleh burung-burung pipit yang suka bernyanyi sambil mencari makan di rerumputan depan rumah itu.

Dan saya pun tidak menyemai biji itu lebih dulu sebab alasan yang maha penting, yakni kelamaan.

Jadilah gundukan tanah yang agak diratakan itu saya sirami setiap pagi dan sore. Pemandangan yang jika dilihat dari jendela tetangga akan tampak seperti saya sedang menyirami kuburan leluhur lalu duduk terpekur menunggu wangsit.

Lewat dua minggu, ayah Alif memberitahu saya saat pagi mulai terang bahwa di tanah itu mulai tumbuh satu dua tanaman berdaun ganda.

Begitu saja saya sudah bahagia. Dari kira-kira seratus biji, ada dua yang berhasil tumbuh.

Maka satu dua tanaman itu saya perhatikan betul-betul setiap pagi dan sore. Jika hujan, saya akan mengintip ke luar untuk memindai keadaannya takut kalau sampai roboh apa lagi hanyut.

Pagi ini, saya masih menyempatkan waktu memandang-mandangi puluhan dedaunan yang mulai tumbuh. Ada enam varian bunga yang sudah saya tanam. Beberapa saya kenali (mungkin) sebagai Bunga Telang dan Marigold. Beberapa lainnya membuat saya berkali-kali membuka youtube, vlogger tanaman, dan google.

"Sebaiknya, pagi tidak main hape dulu, ya. Itu bisa nanti sambil bersantai." Ayah Alif menegur saya pagi itu sepulang dia mengantar Alif sekolah.

Saya yang tadinya rebahan, langsung duduk sambil cengar-cengir.

"Itu... Mas....." ucap saya malu-malu.

"Tadi kan sambil mengantar Alif berangkat sampai depan rumah, Aku terus lihat-lihat tanaman. Kan ada banyak sekali yang tumbuh di depan," lanjut saya dan agak lama terputus karena makin malu.

Setelah beberapa detik yang lengang....

"Nah, aku sekarang sudah di tahap tidak tahu yang tumbuh di depan itu rumput liar apa tanaman bunga kemarin. Jadi aku cari info di youtube. Kok enggak ada yang mirip-miripnya, ya? "

🙃

Lamongan, 7 Maret 2025.

Komentar

Postingan Populer