Me Vs Nyamuk
Semalam, Suami kemalaman beli obat nyamuk. Kebetulan stok sudah habis. Saat dia kembali, saya sudah pulas meski tidak bisa nyenyak karena sedang jadi tumpeng buka puasa para nyamuk. Saat bangun sahur tadi, saya lihat obat nyamuk masih menyala dan masih sisa banyak.
Perseteruan saya dengan nyamuk memang tak kunjung berakhir meski sudah bertahun-tahun bertempur. Curang. Saya yang cuma satu, lugu, dan elegan ini harus menghadapi berkloter-kloter nyamuk ganas setiap hari.
Beragam senjata sudah saya gunakan. Dari raket nyamuk, kelambu tidur, semprotan nyamuk, sampai losion antinyamuk. Semuanya mental. Paling mentok, hanya bertahan sementara dan besoknya gelud lagi.
Terakhir, saya menggunakan obat nyamuk bakar. Terpaksa, dari pada saya berubah jadi nokturnal. Mending kalau nokturnal-nya vampir. Cakep. Lah kalau kuyang?
Awal-awal enggak terbiasa. Asapnya selain mengusir nyamuk, juga nyaris mengusir saya dan Alif juga. Tapi lama-lama terbiasa sebab dibanding digigitin nyamuk semalaman, diasapi seperti ikan asal khas Lamongan begini terasa mendingan.
Kasihan sekali. Betapa pilihan-pilihan ini tidak ada yang menguntungkan. Antara cuma mau jadi kuyang apa ikan asap aja.
Maka dari itu, sejak sore, Suami saya ingatkan betul-betul supaya segera dibelikan obat nyamuk. Tentu memintanya ala wanita yang tidak suka menggunakan kalimat perintah.
"Mas, obat nyamuk habis." Demikian template saya jika menginginkan sesuatu.
Dulu, Suami menanggapi ucapan itu sebagai kalimat berita. Jawabannya pun bisa bikin customer service Telkomsel sungkem.
"Ok. Terima kasih atas informasinya."
Sekarang, astaghfirullah, dia sudah berubah. Dia tidak lagi menyalakan mode cs. Melainkan....
"Oh, habis. Kok, nyamuknya ndak sembuh-sembuh itu kenapa, ya?"
Saya cuma bisa ngakak alih-alih mengakui dosa yang sudah jadi rahasia umum. Yakni sehari sebelumnya, karena geram dengan nyamuk, saya dengan sengaja berfoya-foya. Foya-foya obat nyamuk.
Waktu itu ayah Alif sedang tidak di rumah. Alif sudah tidur. Tinggal saya sendirian, senewen menghadapi nyamuk yang entah datang dari mana. Saya pun membakar satu obat nyamuk, mengelilingkannya di sekitar tempat saya dan Alif tidur, persis seperti ritual orang-orang India. Setelahnya, saya letakkan di sudut dalam ruangan, sekitar setengah meter di atas kepala.
Ternyata, cara itu hanya membuat nyamuk menjauh dari kepala saya dan Alif saja. Nyamuk masih datang dari arah pintu menuju kaki saya dan Alif.
Kesal, saya nekat menyalakan satu lagi obat nyamuk untuk diletakkan di dekat pintu. Yakin aman karena ada kipas angin yang bisa membantu sirkulasi udara agar kami tidak menjelma menjadi ikan asap ukuran super.
Saya hampir menyalakan obat nyamuk ketiga kalau saja tidak khawatir ayah Alif pulang lalu meminta bantuan warga untuk meruqyah saya ke damkar terdekat. Damkar, petugas amanah kesayangan semua orang yang serba bisa; mengatasi kebakaran, ular masuk rumah, PR bocil, setan gentayangan, dan perempuan setengah asap dengan obsesinya yang tak tergapai terhadap nyamuk.
😑
Lamongan, 15 Maret 2025.
Komentar
Posting Komentar