Ibu Bijak
Tadi,saya membantu Alif melepas pakaian agar mudah disuruh ke kamar mandi untuk persiapan tidur. Baik sekali saya malam ini. Timbang baju pun dia tak perlu melepas sendiri. Saya memang sedang males ricuh.
Saya tahu betul harapan Alif selama ini dalam menghadapi proses melepas pakaian. Dia maunya pasti seperti Tony Stark melepas suit Iron Man di puncak gedung. Tinggal jalan sambil pakaiannya rontok sendiri dan rapi sendiri ditelan lantai canggihnya yang berteknologi tinggi.
Tapi Alif tak punya lantai berteknologi tinggi. Adanya ibu beremosi tinggi.
Makanya, setelah saya bantu lepas, saya titip sedikit sampah kertas untuk sekalian dibuangkan di dapur yang akan dia lewati.
"Ini bajunya, jangan lupa sekalian dibuang juga, ya. Eh!" goda saya, mengetes kesadarannya.
Alif cuma ngakak sambil berjalan ke kamar mandi. Acara BAK dan gosok gigi pun berlangsung damai dan terkondisikan dengan baik.
Tidak lupa saya pamer-pamer ke Suami, mengingat akhir-akhir ini Alif selalu kayak ngajak gelud setiap disuruh ke kamar mandi sebelum tidur.
"Tuh, kan, Mas. Pinter, kan, aku! Lihat, betapa hebatnya," sesumbar saya yang receh sekali tapi sombongnya bukan main.
Maklum, beginilah kalau sedang di fase mengumpulkan harga diri meski tahu itu akan kembali nol lagi kapan pun di saat tak terduga.
Lalu, baru saja, saat Alif bahkan sudah ganti baju dan tinggal rebahan doang, ayah Alif memanggil dari dapur.
"Alif, sini! Lihat, apa itu di tempat sampah."
Alif menuju dapur. Begitu juga saya yang kepo.
Terus langsung nyesel. Karena ternyata yang di tempat sampah adalah setelan baju Alif tadi yang saya suruh buang.
Dibuang beneran.
Lamongan, 28 Maret 2025.

Komentar
Posting Komentar