Hal-Hal yang Tak Termiliki pada Masanya: Sepeda
Selain tidak berhasil memiliki kesempatan menggapai cita-cita, ada banyak hal lain yang entah kenapa tidak kunjung saya miliki. Entah karena kemiskinan atau memang ketidakberpihakan nasib kepada saya.
Dulu, dulu sekali, saat sekolah masih menggunakan sistem cawu, saat saya juara satu setahun tiga kali, saat anak-anak orang lain jika masuk sepuluh besar saja mendapat hadiah sepeda, saat anak-anak lain mendapatkan sepeda tanpa syarat, sayalah satu-satunya di antara semua teman, yang tidak memiliki sepeda.
Mungkin karena keluarga saya tidak mampu. Itulah satu-satunya alasan yang bisa diterima logika anak kecil yang harus memaklumi keadaan. Meski saat adik-adik saya lahir, saat jumlah anak berubah dari satu menjadi dua lalu tiga, mereka bisa mendapatkan apa pun yang mereka mau. Baik itu mainan mahal, sepeda, sampai laptop. Saya tidak ingat ada yang berubah dari pekerjaan orang tua sejak dulu hingga kini.
Beberapa saudara pernah menjanjikan sepeda untuk saya. Katanya, kalau saya juara satu lagi, nanti akan dibelikan sepeda. Paman dari keluarga Ibu, kakek jauh dari keluarga Ayah, janji mereka tidak pernah saya lupa sampai sekarang, meski sudah saya ikhlaskan.
Saya tidak pernah meminta sepeda, betapa pun inginnya. Mungkin karena saya perempuan, yang tak sebaiknya berkeliaran, yang tak perlu banyak keluar karena tugasnya kelak hanya seputar dapur, kasur, dan sumur. Sampai masa kecil itu habis, masa remaja terlewat, sepeda itu tak pernah sekali pun saya punyai.
Lalu tibalah saat saya menikah bersama laki-laki yang saya percaya bahwa Tuhan memang memilihkannya untuk saya seorang. Laki-laki yang saya pilih sendiri. Yang saya tidak pernah meminta sepeda kepadanya. Di jogja, dia membelikan saya sepeda dengan sedikit uang yang tersisa di sakunya. Sepeda keranjang second berwarna biru bergigi empat. Saya bahkan baru tahu bahwa sepeda ada giginya. Luar biasa.
Itulah kali pertama saya punya sepeda sendiri, yang mana menaikinya malah membuat saya grogi. Saya yang tak begitu pandai bersepeda karena memang tak pernah punya. Selalunya hanya meminjam saja. Ternyata, sepeda bergigi sangat ringan kayuhannya. Atau mungkin saya menaikinya dengan terlalu bahagia.
Dengan sepeda itu, saya setiap hari berkeliling sekitar Jogja dan Bantul, tepatnya di perbatasan keduanya, di sebuah gang di depan kampus PGRI, tempat kami menyewa hunian selama sekitar lima bulan.
Sepeda itu sekarang sudah tidak ada. Kami menjualnya karena tidak memungkinkan membawanya pulang ke Lamongan. Tapi saya ingat betul momen berharga saat Suami membonceng saya naik sepeda dari Bantul ke Taman Sari dan Alun-Alun Kidul kota Jogja. Saya dan sepeda itu berfoto di segala tempat. Bahkan di sekitar keraton. Norak bukan main. Tapi indah luar biasa.
Lamongan, 22 Maret 2025.
*in frame: sepeda pertama yang entah kini jadi apa atau jadi milik siapa. Jogja, sekitar akhir 2016 - permulaan 2017.

Komentar
Posting Komentar